Tak terasa, usia pernikahan ini sudah berjalan selama 5 tahun. Jika ingat bagaimana awalnya pertemuan kita, sangat aneh mungkin. Tidak dengan proses Pacaran seperti orang kebanyakan.
Allah telah pilihkan seorang pria dengan segudang kesabaran, untuk menjadi suami dan ayah anak-anak saya.
Memang benar, menyatukan dua kepala tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kami dari keluarga yang sangat berbeda. Baik budaya, adat kebiasaan, dan masih banyak lagi perbedaan diantara kami.
Membentuk sebuah keluarga, tentunya keinginan semua orang. Begitupula saya.
Dibenak saya, semua yang indah – indah terlukis.
Berharap mendapatkan suami yang romatis, karena saya sendiri orangnya agak kaku.
Berharap yang punya hoby sama ; traveling, naik gunung, baca buku. Biar kalo ngomong nyambung.
Berharap dia lebih macho, lebih tau banyak hal, dibanding saya yg agak kuper.
Allah berikan saya:
Seorang laki-laki yang jauh….dari romatis. He is just ordinary people, lurus, serius, bahkan seringkali ga ngeh kalau sedang digosipin sama ponakan & istrinya (maaf ya honey…..)
Tidak hoby naik gunung, sekali-kali pengen ngajak naik gunung beneran euy….(nostalgia waktu kuliah)
Tutur katanya sangat halus dan santun terhadap semua (bocoran, hati mama kepincut karena sikapnya yang satu ini), sikapnya Lebih lembut dari saya, Lebih sabar dari saya, lebih gampang tidur….(ini sih ga masuk itungan ya….)
Tapi saya yakin, inilah yang terbaik yang Allah berikan untuk saya.
Persamaan antara kami berdua adalah:
Kami tidak terbiasa ngurus rumah (beberes) alias sama-sama “pemalas”, saya lumayan terkaget-kaget harus mengerjakan semua kerjaan rumah sesaat setelah menikah.
Bisa stressss….berat menghadapi kerjaan rumah yang menggunung. Saya lebih memilih kerja di kantor sampai pagi daripada disuruh melakukan kerjaan rumah. Apalagi didukung kulit saya yang super sensitif, jika terkena detergen, seluruh kulit telapak kaki mengelupas, kulit tangan juga, bahkan sampai lecet-lecet dan berdarah.
Kami sama-sama tidak pernah kerja rumahan (dari beres-beres rumah, nyuci, nyetrika, sampai masak) dari kecil sampai usia saat saya kerja. Bukan saya ngebos tapi banyak kakak yang merelakan adiknya ini main-main daripada beresin rumah or masak. Akhirnya…. Terbawa sampai sekarang.
Dibenak saya, lah…wong sudah cape kerja kantor, masih juga harus jadi “UPIK ABU” (hiks….) apa ga bisa istirahat dengan tenang sepulang kerja seharian.
Sama-sama hoby tidur….., (kalau ini saya agak kalah). Saya tidur panjang kalo pas libur aja. (ngeles), atau saat malamnya harus begadang menyelesaikan kerja, menulis, atau baca buku. Biasanya ba’da subuh, tidur….lagi. kaya lagunya mbah Alm. Mbah Surip ya, Bangun tidur….tidur lagi, bangun tidur…tidur lagi…., bangun tidur…………., tidur lagi. (nyanyi mode on).
Enaknya, suami ga pernah protes liat saya kaya gini, makasih honey…..(tapi saya sering protes kalo suami yang tidur, hehehe…curang ya…..)
Perbedaan kami:
Saya yang notabene cukup mandiri, hidup tidak ditunggui oleh orangtua. Hanya anak-anak (saya, 4 kakak dan 1 adik). Semua kami putuskan sendiri, baik buruk fikir sendiri, semuanya atas inisiatif masing-masing. Tidak seperti keluarga normal pada umumnya. Ada ayah, ibu yang selalu bisa dimintakan pedapatnya saat kita perlukan, yang setia memonitor setiap perkembangan anak-anaknya.
Tapi biarlah…., dengan begini Allah menjadikan kami lebih surfive. Tahan banting.
Suami dari keluarga yang cukup harmonis, selalu ada campur tangan pihak keluarga untuk setiap keputusan yang dibuat. Selalu menimbang baik buruk secara bersama. (indahnya….)
Saya tidak suka berkeliling Mall untuk check harga, atau belanja apalagi menawar harga. Berbeda dengan suami, yang jago banget nawar, dan hoby keliling Check harga. Kalo saya belanja, bisa di target waktu & brg yang dibeli. Tapi kalo suami yang belanja……jangan harap bisa secepat kilat melesat. Pastinya My hubby tengok kanan kiri, liat promo ini itu.
Kalo suami….hebatnya….ga cape keliling terussss… (jadi ingat waktu beli HP di Roxi, untuk menggantikan HP yang di curi org di Bis) saat itu kami mampir di toko pertama, harga sudah cocok, tp suami tidak puas karena penjual tidak mau turunkan harga.
Akhirnya saya diajak muter-muter, hampir 2 jam muter-muter, tidak bertemu dengan toko yang harganya dibawah toko pertama. Yasud…, kembalilah kami ke toko pertama. Emang belum rezekinya, toko tersebut sudah keburu tutup. Yah…nyesel banget kan. Saya langsung manyun, semanyun-manyunnya. 2,5 jam muter-muter di Roxi, pulang dengan tangan hampa.
Saya suka sekali baca buku, apapun bukunya. Dari yang lucu sampai yang serius. Seringkali sampai begadang untuk sekedar menamatkan buku yang sedang saya baca. Suami malah heran melihat saya seperti itu. (aneh kali ya….., sakaaw….baca buku).
Hal yang satu ini coba saya tularkan ke suami, (gak mempan kayanya), berkali-kali saya kompori tentang buku yang bagus, tidak juga tergiur tuh…..(wuaaaa…..gagal…, ga bisa jadi sales buku yang baik dong ya…). Mau tau alasannya?
Suami saya bilang :
1. Bukunya terlalu tebal,
2. Kayanya buku lain lebih menarik,
3. Mending baca sedikit tapi rutin, daripada tidak,
4…….zzzz (keburu pulessss deh dia, hihihi).
Baca majalah tarbawi aja yang tipiiiiiis, bisa ber hari-hari selesainya. (hebat…kan?)
Mungkin sangking mengkaji dan mendalami isi tulisannya kali ya….jadi agak lama selesainya (cieh….ngeles).
Bedanya , suami suka baca judulnya doang, and bawa-bawa buku penuhi tasnya, tapi saat ditanya dah selesai belum bacanya?
Dijawab dengan pasti, “BELUM !” (Pfffuih….., cape deh….)
Rabu, 28 Juli 2010
Cinta di Ujung Sajadah
21 Maret 2009, 01:40 WIB
Selesai membaca buku Cinta di Ujung Sajadah
Kembali air mata ini dibuat berderai – derai. Entah mengapa setiap moment yang menyisipkan sosok ibu, selalu saja air mata ini tumpah tak terbendung. Kerinduan yang membuncah pada ibu (mama). Kerinduan yang sama saat saya meninggalkan sesaat kedua buah hati (karena tugas kantor dan dakwah). Pastinya mama disana merasakan apa yang saya rasakan, malah lebih dahsyat lagi kerinduan mama pada anak – anaknya. Kondisi yang memaksa beliau terpisah jarak yang cukup jauh dari anak –anak yang dicintanya, demi memperbaiki hari depan anak –anaknya kelak.
Tersadar, bahwa diri ini kurang bersyukur, masih punya mama, yang sangat mencintai anak – anaknya, salah satunya saya (air mata ini kembali menetes). Selama ini begitu sibuknya saya, sehingga teringkali lalai untuk sekedar memberi kabar pada mama, baik lewat telepon, atau sms. Padahal mama nun jauh disana, setiap saat berdoa untuk kebahagiaan anak – anaknya. Maafkan kami ma, yang sering menyusahkan mama.
Melankolis atau cengeng, atau apalah namanya, jika setiap mendengar lagu iwan fals tentang ibu, selalu saja mata saya berkaca – kaca seketika, bahkan bisa langsung menangis. Tak peduli di manapun tempatnya, di bis, di terminal, di warung makan, bahkan lampu merah perempatan jalan, saat pengamen menyanyikan lagu itu, ya….lagu ibu.. Bagaimana mungkin hati ini tidak pedih mendengar syair lagu nya.
….Ribuan kilo jarak yang kau tempuh,
Lewati rintangan demi aku anakmu,
Ibuku sayang, masih terus berjalan,
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan,
Tak mampu ku membalas
Ibu…
Saya baru merasakan sedikit derita seorang ibu. Bagaimana saat kepayahan mengandung, bagaimana saat melahirkan, dan melihat sang buah hati yang sedang sakit, bahkan jika anak sulit makan pun sang bunda pastinya bersedih hati. Pastinya mama juga merasakan hal yang sama. Beberapa jam tidak bertemu anak rasanya lama…..sekali. Bagaimana dengan mama yang bertahun – tahun tidak bertemu anak – anaknya. Pastinya rindu…..sekali.
Saat ini, kerinduan pada mama sedang meledak ledak. Ingin segera terbang ke sana menemui mama. Bersujud mencium kakinya, memeluknya, untuk tidak dilepaskan lagi. Ingin sekali bertemu dengan mama.
Ya…Allah ya rabb.
Pertemukan kami, ya rabb.
Izinkan kami bertemu mama…..,
hamba rindu sekali, jika mama sulit untuk pulang ke Indonesia,
mudahkan hamba untuk datang memenuhi panggilan- Mu agar bisa berkunjung ke tanah Suci.
ya….Allah, ya Rohman ya..Rohiim,
yang maha kaya, yang maha segala,
Berharap di suatu saat nanti, pastinya kami akan dipertemukan.
Jika tidak di sini, di dunia ini,mungkin Allah akan pertemukan kami di surga Nya.
Robbifirli, waliwalidaya Warhamhuma kama robbayani shogiro
Amin allahuma amin.
Selesai membaca buku Cinta di Ujung Sajadah
Kembali air mata ini dibuat berderai – derai. Entah mengapa setiap moment yang menyisipkan sosok ibu, selalu saja air mata ini tumpah tak terbendung. Kerinduan yang membuncah pada ibu (mama). Kerinduan yang sama saat saya meninggalkan sesaat kedua buah hati (karena tugas kantor dan dakwah). Pastinya mama disana merasakan apa yang saya rasakan, malah lebih dahsyat lagi kerinduan mama pada anak – anaknya. Kondisi yang memaksa beliau terpisah jarak yang cukup jauh dari anak –anak yang dicintanya, demi memperbaiki hari depan anak –anaknya kelak.
Tersadar, bahwa diri ini kurang bersyukur, masih punya mama, yang sangat mencintai anak – anaknya, salah satunya saya (air mata ini kembali menetes). Selama ini begitu sibuknya saya, sehingga teringkali lalai untuk sekedar memberi kabar pada mama, baik lewat telepon, atau sms. Padahal mama nun jauh disana, setiap saat berdoa untuk kebahagiaan anak – anaknya. Maafkan kami ma, yang sering menyusahkan mama.
Melankolis atau cengeng, atau apalah namanya, jika setiap mendengar lagu iwan fals tentang ibu, selalu saja mata saya berkaca – kaca seketika, bahkan bisa langsung menangis. Tak peduli di manapun tempatnya, di bis, di terminal, di warung makan, bahkan lampu merah perempatan jalan, saat pengamen menyanyikan lagu itu, ya….lagu ibu.. Bagaimana mungkin hati ini tidak pedih mendengar syair lagu nya.
….Ribuan kilo jarak yang kau tempuh,
Lewati rintangan demi aku anakmu,
Ibuku sayang, masih terus berjalan,
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan,
Tak mampu ku membalas
Ibu…
Saya baru merasakan sedikit derita seorang ibu. Bagaimana saat kepayahan mengandung, bagaimana saat melahirkan, dan melihat sang buah hati yang sedang sakit, bahkan jika anak sulit makan pun sang bunda pastinya bersedih hati. Pastinya mama juga merasakan hal yang sama. Beberapa jam tidak bertemu anak rasanya lama…..sekali. Bagaimana dengan mama yang bertahun – tahun tidak bertemu anak – anaknya. Pastinya rindu…..sekali.
Saat ini, kerinduan pada mama sedang meledak ledak. Ingin segera terbang ke sana menemui mama. Bersujud mencium kakinya, memeluknya, untuk tidak dilepaskan lagi. Ingin sekali bertemu dengan mama.
Ya…Allah ya rabb.
Pertemukan kami, ya rabb.
Izinkan kami bertemu mama…..,
hamba rindu sekali, jika mama sulit untuk pulang ke Indonesia,
mudahkan hamba untuk datang memenuhi panggilan- Mu agar bisa berkunjung ke tanah Suci.
ya….Allah, ya Rohman ya..Rohiim,
yang maha kaya, yang maha segala,
Berharap di suatu saat nanti, pastinya kami akan dipertemukan.
Jika tidak di sini, di dunia ini,mungkin Allah akan pertemukan kami di surga Nya.
Robbifirli, waliwalidaya Warhamhuma kama robbayani shogiro
Amin allahuma amin.
Berjibaku cari dana untuk Operasi Tumor mba susi.
(bagian 1)
Tidak bisa ditahan. Air mata ini terus mengalir. Saya kecewa, sedih, marah, dengan kondisi yang ada. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk mba susi. Orang yang begitu care sama saya, yang rela mengorbankan sekotak perhiasannya demi saya bisa melanjutkan sekolah, yang selalu ada saat saya susah, yang selalu memotivasi saya, saat ini dia sedang tergolek tak berdaya. Sedang menunggu uluran tangan saudaranya.
Saya tidak habis fikir dengan saudara saya yang lain yang notabene hidup
berkecukupan, yang pemasukan sebulan lebih dari 200 juta, yang hidupnya serba wah…. Tapi begitu mendengar saudaranya sedang kesulitan, langsung berakting seperti layaknya orang yang miskin, tidak punya apa-apa.
Sehingga berat sekali rasanya tangannya memberi. Sedih….sekali.
Andai saja saya punya dana berlebih saat ini, pastinya dana itu segera meluncur ke rekening mba susi. Sayangnya dana di tabungan saya hari ini (13 maret 2009) tinggal 200 ribu, menunggu gajian suami (tanggal 25). Mau pinjam ke kantor, harus melalui prosedur yang berbelit dan belum tentu dana itu akan keluar dalam waktu dekat alias waiting list. Saya jadi tambah hopeless, tambah deras air mata ini mengalir. Jalan satu – satunya adalah mengambil tabungan pendidikan ifa (di syariah mandiri).
Yah….hanya itu jalan satu – satunya walaupun jumlahnya masih jauh dari yang dibutuhkan mba susi. Minimal bisa mengurangi sedikit beban di pundak mba susi.
Ya Allah….., tolong kami…..
(Friday, March 13, 2009)jam 11:59 siang.
-------------
(bagian 2)
Belum selesai juga rupanya, beban dipundak ini terasa berat. Rasanya sampai ke kepala, alias jadi pusing tujuh keliling. Semua orang ga mau bantu. Si kaya tak ada kabarnya, malah terakhir saya dengar beliau malah tersinggung atau apalah namanya.
Saya tidak mengerti. Mengapa semua jadi serba rumit seperti ini.
Yang saya mengerti hanya sederhana, jika mau membantu, bantu saja.
Tidak pakai embel – embel apapun. Jika tidak bisa atau tidak mau membantu ya, bilang saja. Toh clear masalahnya. Kita jadi tidak berharap banyak atas bantuan yang tak kunjung datang.
Hari ini, rencana saya meleset. Buku bank syariah mandiri saya nyelip entah dimana. Sementara hanya dengan itu tabungan ifa bsa diambil. Kalau memang dilaporkan hilang, prosedurnya pastilah berbelit dan lebih panjang lagi. Saya bingung harus bagaimana. Teman yang saya harap bisa diajak sharing, tidak bisa memberikan solusi. Hhhehh jadi tambah pusing.
Sekarang hanya Allah saja lah penolong saya, dimana saat semua tidak dapat memberikan solusi. Sedih. Saya tidak bisa berbuat banyak. Niatnya meringankan beban orang lain, jadi malah terbebani sendiri. Semoga saja saya tetap bisa menjalankan ini semua dengan ikhlas, walaupun berat.
Jangan sampai mama tau, bahwa dana yang saya berikan ke mba susi, adalah dana pinjaman, yang sayapun pusing untuk menggantinya. Saya tidak ingin memberatkan orang tua lagi. Cukuplah kami yang susah, jangan lagi orang tua terkena imbasnya.
Gimana ya….?, ada alternative?
- pinjam bank (bunganya lumayan cukup besar),
- pinjam kantor (belum tau kapan bisa cair)
- jual perhiasan (saya hanya punya cincin kawin & kalung hadiah dari madam inza),
kalaupun itu dijual harganya tidak seberapa (hitung saja 1gram emas =200rb, jika
hanya 6gram = 1,2jt)
- ga punya yang lain yang bisa dijual.
Ya… Allah….,
Hamba bingung, harus bagaimana lagi.
(Friday, March 20, 2009)jam 13:30 siang.
Tidak bisa ditahan. Air mata ini terus mengalir. Saya kecewa, sedih, marah, dengan kondisi yang ada. Saya tidak bisa berbuat banyak untuk mba susi. Orang yang begitu care sama saya, yang rela mengorbankan sekotak perhiasannya demi saya bisa melanjutkan sekolah, yang selalu ada saat saya susah, yang selalu memotivasi saya, saat ini dia sedang tergolek tak berdaya. Sedang menunggu uluran tangan saudaranya.
Saya tidak habis fikir dengan saudara saya yang lain yang notabene hidup
berkecukupan, yang pemasukan sebulan lebih dari 200 juta, yang hidupnya serba wah…. Tapi begitu mendengar saudaranya sedang kesulitan, langsung berakting seperti layaknya orang yang miskin, tidak punya apa-apa.
Sehingga berat sekali rasanya tangannya memberi. Sedih….sekali.
Andai saja saya punya dana berlebih saat ini, pastinya dana itu segera meluncur ke rekening mba susi. Sayangnya dana di tabungan saya hari ini (13 maret 2009) tinggal 200 ribu, menunggu gajian suami (tanggal 25). Mau pinjam ke kantor, harus melalui prosedur yang berbelit dan belum tentu dana itu akan keluar dalam waktu dekat alias waiting list. Saya jadi tambah hopeless, tambah deras air mata ini mengalir. Jalan satu – satunya adalah mengambil tabungan pendidikan ifa (di syariah mandiri).
Yah….hanya itu jalan satu – satunya walaupun jumlahnya masih jauh dari yang dibutuhkan mba susi. Minimal bisa mengurangi sedikit beban di pundak mba susi.
Ya Allah….., tolong kami…..
(Friday, March 13, 2009)jam 11:59 siang.
-------------
(bagian 2)
Belum selesai juga rupanya, beban dipundak ini terasa berat. Rasanya sampai ke kepala, alias jadi pusing tujuh keliling. Semua orang ga mau bantu. Si kaya tak ada kabarnya, malah terakhir saya dengar beliau malah tersinggung atau apalah namanya.
Saya tidak mengerti. Mengapa semua jadi serba rumit seperti ini.
Yang saya mengerti hanya sederhana, jika mau membantu, bantu saja.
Tidak pakai embel – embel apapun. Jika tidak bisa atau tidak mau membantu ya, bilang saja. Toh clear masalahnya. Kita jadi tidak berharap banyak atas bantuan yang tak kunjung datang.
Hari ini, rencana saya meleset. Buku bank syariah mandiri saya nyelip entah dimana. Sementara hanya dengan itu tabungan ifa bsa diambil. Kalau memang dilaporkan hilang, prosedurnya pastilah berbelit dan lebih panjang lagi. Saya bingung harus bagaimana. Teman yang saya harap bisa diajak sharing, tidak bisa memberikan solusi. Hhhehh jadi tambah pusing.
Sekarang hanya Allah saja lah penolong saya, dimana saat semua tidak dapat memberikan solusi. Sedih. Saya tidak bisa berbuat banyak. Niatnya meringankan beban orang lain, jadi malah terbebani sendiri. Semoga saja saya tetap bisa menjalankan ini semua dengan ikhlas, walaupun berat.
Jangan sampai mama tau, bahwa dana yang saya berikan ke mba susi, adalah dana pinjaman, yang sayapun pusing untuk menggantinya. Saya tidak ingin memberatkan orang tua lagi. Cukuplah kami yang susah, jangan lagi orang tua terkena imbasnya.
Gimana ya….?, ada alternative?
- pinjam bank (bunganya lumayan cukup besar),
- pinjam kantor (belum tau kapan bisa cair)
- jual perhiasan (saya hanya punya cincin kawin & kalung hadiah dari madam inza),
kalaupun itu dijual harganya tidak seberapa (hitung saja 1gram emas =200rb, jika
hanya 6gram = 1,2jt)
- ga punya yang lain yang bisa dijual.
Ya… Allah….,
Hamba bingung, harus bagaimana lagi.
(Friday, March 20, 2009)jam 13:30 siang.
Do’a Nadin untuk Umi
Tahun 2004 yang lalu, mba susi (kakak saya) pernah menderita depresi yang lumayan parah. Sering kali mba susi jatuh pingsan dengan tiba -tiba, atau otot mulutnya mendadak kaku, sampai – sampai tidak bias berkata – kata, bahkan pernah juga tangan kakinya kaku, tidak bisa digerakkan. Biasanya hal itu terjadi jika beban fikirannya terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Seperti biasanya, mama saya yang tinggal di Jeddah menelpon mba susi untuk menanyakan perihal ponakan kami tyas namanya (anak tertua dari kakak tertua kami) ribet ya? Intinya ibu saya menyalahkan mba susi atas laporan kami tentang polah tyas yang agak menghawatirkan. Isi pembicaraanya saya kurang tau pasti, yang jelas, mba susi mendadak diam seribu basa sehabis menerima telepon dari mama.
Saya coba menanyakan apa yang barusan mama bicarakan padanya, jawabannya hanya gelengan kepala yang saya dapatkan. Akhirnya saya melanjutkan aktifitas membaca yang sempat terhenti, karena saya berfikir, jika saatnya tiba pastinya mba susi akan membicarakan pada saya, karena selama ini kami berdua sering curhat masalah apapun.
Beberapa hari setelah kejadian itu, mba susi kelihatan sangat murung, saya belum juga diajaknya bicara tentang masalah yang sedang membuat hatinya galau.
Saya coba memaksanya, alhasil malah tangisnya tiba –tiba pecah. Kemudian jatuh terkulai dalam posisi duduk, saya mencoba mengangkatnya, sambil berteriak minta bantuan rus (suaminya). Setelah tubuh mba susi digotong ke kasur, bukannya berangsur membaik, malah makin parah. Kali ini mba susi mulai berteriak memanggil mama, sambil terus menangis. Saya makin bingung, bukan hanya saya, anak mba susi (nadin 6 tahun) juga ikut panic. Akhirnya kak rus (abinya nadin) menenangkan kami semua, sambil terus bertilawah. Alhamdulillah kondisi agak membaik. Kak rus tak lupa juga menyuruh nadin untuk ikut mendoakan uminya agar lekas sembuh.
“ nadin ayo doain umi biar cepet sembuh, doa apa aja yang nadin bisa.”
Mendengar omongan abinya nadin langsung ikut berdoa dengan sepenuh hati. Nadin bergeser lebih mendekat pada uminya, sambil mengangkat kedua tangannya, nadin pun memejamkan kedua matanya, mungkin supaya lebih khusyu,
dan nadinpun mulai berdoa
“Bissmillahirohmaanirohiim…,
Alhamdulillah (dalam hati, saya berkata), anak sekecil ini sudah bisa mendoakan uminya, moga Allah mendengarkan dan mengabulkan doanya.
Kemudian nadin melanjutkan lagi doanya
“Allahuma bariklanaa, fima rozaqtanaa waqina adzabannaar, amiin” selesai membaca doa nadin dengan tetap serius dan khusyu mengusap wajahnya.
waduh kok doa makan?
Kami semua yang mendengar doa nadin tanpa dikomando jadi tertawa, Saya mau ngakak tapi ditahan, ga enak ada yang sakit.
“Ya Allah… nadin, masa doain umi pake doa mau makan?” Tanya abinya. Yang ditanya tidak mengerti mengapa kami semua tertawa mendengar do’a nadin.
“ Memangnya ga boleh bi?”
“ Kata abi, doa apa aja yang nadin bisa, ya…, itu doa yang nadin bisa.” Jawabnya masih memasang wajah bingung.
“ Ya sudah, kalau begitu pakai bahasa nadin aja deh, doanya” jawab kak rus.
Mba susi yang sudah agak baikan juga ikut tersenyum mendengar do’a nadin, ternyata doanya ampuh juga, mba susi berangsur baikan.
Ya…Allah, dalam kesulitan masih diselipkan keculuan tingkah nadin. Moga uminya cepet sembuh kalo nadin selalu membuat suasana jadi ceria.
Cikarang 11 February 2009, Tulisan ini untuk mba susi,
“jangan stress ya mba, liat nadin pasti ilang deh mumetnya”.
Seperti biasanya, mama saya yang tinggal di Jeddah menelpon mba susi untuk menanyakan perihal ponakan kami tyas namanya (anak tertua dari kakak tertua kami) ribet ya? Intinya ibu saya menyalahkan mba susi atas laporan kami tentang polah tyas yang agak menghawatirkan. Isi pembicaraanya saya kurang tau pasti, yang jelas, mba susi mendadak diam seribu basa sehabis menerima telepon dari mama.
Saya coba menanyakan apa yang barusan mama bicarakan padanya, jawabannya hanya gelengan kepala yang saya dapatkan. Akhirnya saya melanjutkan aktifitas membaca yang sempat terhenti, karena saya berfikir, jika saatnya tiba pastinya mba susi akan membicarakan pada saya, karena selama ini kami berdua sering curhat masalah apapun.
Beberapa hari setelah kejadian itu, mba susi kelihatan sangat murung, saya belum juga diajaknya bicara tentang masalah yang sedang membuat hatinya galau.
Saya coba memaksanya, alhasil malah tangisnya tiba –tiba pecah. Kemudian jatuh terkulai dalam posisi duduk, saya mencoba mengangkatnya, sambil berteriak minta bantuan rus (suaminya). Setelah tubuh mba susi digotong ke kasur, bukannya berangsur membaik, malah makin parah. Kali ini mba susi mulai berteriak memanggil mama, sambil terus menangis. Saya makin bingung, bukan hanya saya, anak mba susi (nadin 6 tahun) juga ikut panic. Akhirnya kak rus (abinya nadin) menenangkan kami semua, sambil terus bertilawah. Alhamdulillah kondisi agak membaik. Kak rus tak lupa juga menyuruh nadin untuk ikut mendoakan uminya agar lekas sembuh.
“ nadin ayo doain umi biar cepet sembuh, doa apa aja yang nadin bisa.”
Mendengar omongan abinya nadin langsung ikut berdoa dengan sepenuh hati. Nadin bergeser lebih mendekat pada uminya, sambil mengangkat kedua tangannya, nadin pun memejamkan kedua matanya, mungkin supaya lebih khusyu,
dan nadinpun mulai berdoa
“Bissmillahirohmaanirohiim…,
Alhamdulillah (dalam hati, saya berkata), anak sekecil ini sudah bisa mendoakan uminya, moga Allah mendengarkan dan mengabulkan doanya.
Kemudian nadin melanjutkan lagi doanya
“Allahuma bariklanaa, fima rozaqtanaa waqina adzabannaar, amiin” selesai membaca doa nadin dengan tetap serius dan khusyu mengusap wajahnya.
waduh kok doa makan?
Kami semua yang mendengar doa nadin tanpa dikomando jadi tertawa, Saya mau ngakak tapi ditahan, ga enak ada yang sakit.
“Ya Allah… nadin, masa doain umi pake doa mau makan?” Tanya abinya. Yang ditanya tidak mengerti mengapa kami semua tertawa mendengar do’a nadin.
“ Memangnya ga boleh bi?”
“ Kata abi, doa apa aja yang nadin bisa, ya…, itu doa yang nadin bisa.” Jawabnya masih memasang wajah bingung.
“ Ya sudah, kalau begitu pakai bahasa nadin aja deh, doanya” jawab kak rus.
Mba susi yang sudah agak baikan juga ikut tersenyum mendengar do’a nadin, ternyata doanya ampuh juga, mba susi berangsur baikan.
Ya…Allah, dalam kesulitan masih diselipkan keculuan tingkah nadin. Moga uminya cepet sembuh kalo nadin selalu membuat suasana jadi ceria.
Cikarang 11 February 2009, Tulisan ini untuk mba susi,
“jangan stress ya mba, liat nadin pasti ilang deh mumetnya”.
Anak Cerdas ORTU Speechless
Sudah seminggu ini, saya tidak melihat Iffa melompat-lompat seperti biasanya. Usut punya usut, ternyata kakinya ada benjolan, sehingga jangankan lompat, berjalan saja Iffa tertatih. Tidak tega melihat kondisi Iffa yang lain dari biasanya, saya pergi ke rumah sakit terdekat.
Diagnosisnya , kakinya kena virus (entah virus apa). Yang jelas obat yang diberikan lumayan cukup banyak. Setiap saat pulang kerja selalu mengingatkan Iffa untuk minum obat. Malam itu, Iffa baru saja minum obat (diantaranya ada antibiotik). Selang beberapa menit, Iffa minta dibuatkan susu.
“ Ibu, kakak mau mimi susu.” Pinta Iffa pada saya. Sambil berbaring di kasur dengan memeluk guling kesayangannya.
“ Sebentar lagi ya kak, kan baru minum obat.” Jawab saya.
“Ibuuu….., kakak mau mimi.” Pintanya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras.
“ Sebentar lagi sayang.” Jawab saya mencoba menenangkan. Ternyata tidak digubris Iffa.
“Teteh…., ngomong dong sama Ibu. Kakak mau mimi susu.” Iffa mulai merajuk pada teh mira, yang juga sedang duduk menemani Iffa.
“ Kakak, kan ibu bilang nanti. Sebentar lagi.” Jawab the Mira.
“ Ih….teteh…., ngomong atuh…, sama ibu. Kakak mau mimi nih” pintanya lagi, sambil meunjuk saya. Kami bertiga sedang berada di kamar Iffa.
Saya hanya bisa geleng – geleng kepala. Gimana caranya menjelaskan ke Iffa. Bingung.
-----------
Besoknya saya mencoba ke dokter lain, karena kondisi benjolan dikaki Iffa yang semakin membesar. Alhamdulillah, benjolannya berhasil dibuang (baca: bedah kecil), walaupun meninggalkan trauma pada Iffa. Saat akan dibuang ebnjolan tersebut, saya pegang kedua tangan Iffa, dan mencoba menutup matanya supaya tidak melihat gunting, pinset, dkk. Tapi ternyata iffa protes, saat saya tutupi.
“ Ibu, yang benel dong, pegangin kakaknya. Kakak ga keliatan nih.” Protes Iffa sambil mencoba tetap melihat apa yang dilakukan dokter, disela tangisannya.
Duh….hati saya hancur, lihat tangisan Iffa. Tapi lucu juga dengar kata-katanya barusan. Penasaran tapi takut. Maafkan Ibu ya kak…
-----------------
Pulang dari rumah sakit ba’da ashar. Saatnya minum obat, saya mencoba bertanya pada Iffa. Karena sepanjang pulang dari dokter, Iffa tidur pulas baru bangun pas maghrib. Begitu terjaga, Iffa tidak mau makan, hanya susu yang dia mau. Sampai botol ketiga, saya penasaran.
“ Kakak lapar? Makan aja ya.” Bujuk saya
“ Kakak ga mau makan ibu, mimi susu aja.” Jawabnya
“ Jangan minum susu terus atuh, makan ya. Makan roti deh, apa biskuit. Biar perut kakak ada isinya.” Bujuk saya lagi. Berharap iffa mau salah satu yang saya tawarkan.
“ Ga mau ibu…., kakak mau mimi aja” jawabnya tak kalah tegasnya.
“ Dari tadi kakak minum susu terus, kapan minum obatnya.” Tanya saya pada Iffa, yang sedang asik menonton film Garuda Di dadaku.
Kemudian Iffa menjawab, dengan tanpa ekspresi dan mata tetap tertuju pada TV.
“ Kapan aja.” Jawabnya santai.
Saya nyengir bingung. Sambil mengacungkan jempol saya ke arah Iffa. Dalam hati maksudnya berkata ‘hebat….kakak bikin ibu bingung’, Eh….Iffa malah membalas mengacungkan telunjuknya. (kok jadi suit?)
Lalu saya membalikkan posisi acungan jempol menjadi terbalik ke arah bawah, maksdunya ‘ga OKE kalo ga mau minum obat’, Iffa malah membalas denganmengacungkan jempol ke arah atas.
“ Oke….bu.” katanya.
Gubraks….(skore 1-0 untuk Iffa).
----------
Saya kadang befikir, apa semua anak kecil susah disuruh tidur. Karena sayapun dulu begitu. Sekarang, setiap saya meminta Iffa untuk tidur selalu ada saja jawaban cerdas. Seperti kejadian siang ini.
“ kakak tidur dong…., udah jam 2 siang tuh. Kalo ga tidur siang nanti pusing loh.” Pinta saya. Sambil terus mengipasi Iffa (special request walaupun AC atau kipas angin menyala).
“ Ini kakak uda tidul.” Jawab Iffa yang sudah dalam posisi PW (tiduran sambl meluk guling), tapi matanya tetap bulat terbuka.
“ kalau tidur, matanya merem dong. Kaya gini nih.” Saya mencontohkan dengan mata terpejam. Berharap Iffa mengikuti saya.
“ ini kan kakak udah tidul, tuh….kan ga berdili, tapi tidulan dikasul. Kakak udah tidul ibu….” Iffa ngeles.
Bener sih, jawabnnya. Posisi Iffa dalam posisi tiduran. Tapi maksud saya tidur beneran.
----------
PS: Masih belajar supaya jadi ibu yang cerdas, karena anak sekarang sangat cerdas, kebanyakan salmon kali ya?:))
Diagnosisnya , kakinya kena virus (entah virus apa). Yang jelas obat yang diberikan lumayan cukup banyak. Setiap saat pulang kerja selalu mengingatkan Iffa untuk minum obat. Malam itu, Iffa baru saja minum obat (diantaranya ada antibiotik). Selang beberapa menit, Iffa minta dibuatkan susu.
“ Ibu, kakak mau mimi susu.” Pinta Iffa pada saya. Sambil berbaring di kasur dengan memeluk guling kesayangannya.
“ Sebentar lagi ya kak, kan baru minum obat.” Jawab saya.
“Ibuuu….., kakak mau mimi.” Pintanya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras.
“ Sebentar lagi sayang.” Jawab saya mencoba menenangkan. Ternyata tidak digubris Iffa.
“Teteh…., ngomong dong sama Ibu. Kakak mau mimi susu.” Iffa mulai merajuk pada teh mira, yang juga sedang duduk menemani Iffa.
“ Kakak, kan ibu bilang nanti. Sebentar lagi.” Jawab the Mira.
“ Ih….teteh…., ngomong atuh…, sama ibu. Kakak mau mimi nih” pintanya lagi, sambil meunjuk saya. Kami bertiga sedang berada di kamar Iffa.
Saya hanya bisa geleng – geleng kepala. Gimana caranya menjelaskan ke Iffa. Bingung.
-----------
Besoknya saya mencoba ke dokter lain, karena kondisi benjolan dikaki Iffa yang semakin membesar. Alhamdulillah, benjolannya berhasil dibuang (baca: bedah kecil), walaupun meninggalkan trauma pada Iffa. Saat akan dibuang ebnjolan tersebut, saya pegang kedua tangan Iffa, dan mencoba menutup matanya supaya tidak melihat gunting, pinset, dkk. Tapi ternyata iffa protes, saat saya tutupi.
“ Ibu, yang benel dong, pegangin kakaknya. Kakak ga keliatan nih.” Protes Iffa sambil mencoba tetap melihat apa yang dilakukan dokter, disela tangisannya.
Duh….hati saya hancur, lihat tangisan Iffa. Tapi lucu juga dengar kata-katanya barusan. Penasaran tapi takut. Maafkan Ibu ya kak…
-----------------
Pulang dari rumah sakit ba’da ashar. Saatnya minum obat, saya mencoba bertanya pada Iffa. Karena sepanjang pulang dari dokter, Iffa tidur pulas baru bangun pas maghrib. Begitu terjaga, Iffa tidak mau makan, hanya susu yang dia mau. Sampai botol ketiga, saya penasaran.
“ Kakak lapar? Makan aja ya.” Bujuk saya
“ Kakak ga mau makan ibu, mimi susu aja.” Jawabnya
“ Jangan minum susu terus atuh, makan ya. Makan roti deh, apa biskuit. Biar perut kakak ada isinya.” Bujuk saya lagi. Berharap iffa mau salah satu yang saya tawarkan.
“ Ga mau ibu…., kakak mau mimi aja” jawabnya tak kalah tegasnya.
“ Dari tadi kakak minum susu terus, kapan minum obatnya.” Tanya saya pada Iffa, yang sedang asik menonton film Garuda Di dadaku.
Kemudian Iffa menjawab, dengan tanpa ekspresi dan mata tetap tertuju pada TV.
“ Kapan aja.” Jawabnya santai.
Saya nyengir bingung. Sambil mengacungkan jempol saya ke arah Iffa. Dalam hati maksudnya berkata ‘hebat….kakak bikin ibu bingung’, Eh….Iffa malah membalas mengacungkan telunjuknya. (kok jadi suit?)
Lalu saya membalikkan posisi acungan jempol menjadi terbalik ke arah bawah, maksdunya ‘ga OKE kalo ga mau minum obat’, Iffa malah membalas denganmengacungkan jempol ke arah atas.
“ Oke….bu.” katanya.
Gubraks….(skore 1-0 untuk Iffa).
----------
Saya kadang befikir, apa semua anak kecil susah disuruh tidur. Karena sayapun dulu begitu. Sekarang, setiap saya meminta Iffa untuk tidur selalu ada saja jawaban cerdas. Seperti kejadian siang ini.
“ kakak tidur dong…., udah jam 2 siang tuh. Kalo ga tidur siang nanti pusing loh.” Pinta saya. Sambil terus mengipasi Iffa (special request walaupun AC atau kipas angin menyala).
“ Ini kakak uda tidul.” Jawab Iffa yang sudah dalam posisi PW (tiduran sambl meluk guling), tapi matanya tetap bulat terbuka.
“ kalau tidur, matanya merem dong. Kaya gini nih.” Saya mencontohkan dengan mata terpejam. Berharap Iffa mengikuti saya.
“ ini kan kakak udah tidul, tuh….kan ga berdili, tapi tidulan dikasul. Kakak udah tidul ibu….” Iffa ngeles.
Bener sih, jawabnnya. Posisi Iffa dalam posisi tiduran. Tapi maksud saya tidur beneran.
----------
PS: Masih belajar supaya jadi ibu yang cerdas, karena anak sekarang sangat cerdas, kebanyakan salmon kali ya?:))
Kapok pasang poster
Jadwal pengajian pagi, alias mentor memenuhi MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) Agama Islam semester satu. Hari ini rasanya malas betul untuk tetap terjaga setelah semalaman begadang mengerjakan laporan praktikum Kimia Dasar. Inginnya segera menarik selimut dan melanjutkan mimpi. Alih alih tidur pulas saya harus bergegas mempersiapkan acara mentor karena kali ini kebagian menjadi tuan rumah.
Mecoba membersihkan kamar tidur, sesekali kejedut pinggir dipan & kaki meja. Maklum, nyapu sambil merem. Merasa agak pede kalau kamar bersih, lagi harum. baby cologne sengaja dicipratin ke penjuru ruangan. (ga modal banget ya). Yakin kamar bersih, kinclong, tak ada debu di meja sayapun menyiapkan panganan kecil untuk teman-teman yang nanti datang.
Sekitar jam tujuh, satu persatu teman mentor datang. Yang paling pagi justru mba Tri (kakak tingkat 2), jilbaber yang ditugaskan dosen Agama untuk membimbing kami mantor. Berbekal segudang kesabaran mba Tri menghadapi kami anak-anak nakal.
Perlu pembaca tau, tempat kos-kosan saya adalah sebuah rumah dengan tujuh kamar tidur (semua di isi anak kos) dengan tidak ditunggui sang pemilik kos. Kami bertujuh perempuan semua (pasti lah..). kamar saya terletak dibelakang berdekatan dengan 2 kamar tidur lainnya, mengelilingi kolam ikan, dan ruangan untuk sektrika. Sebelah kamar saya langsung kamar mandi. Jadi dengan mudah saya tidak perlu antri, atau sambil merem juga bisa ke kamar mandi.
Kamar tanpa AC tapi adem. Namanya juga di bogor, maklum atuh adem. Back to mentor….
Mentoringpun dimulai dengan membaca basmalah, tilawah Qur’an berkeliling. Saya sempet degdegan pas dapet jatah membaca Qur’an. Maklum…, sekedar baca sih bisa, tapi tajwidnya…ampuuuun…, banyak salah. Keringet dingin sampe ngucur saat disuruh ngaji. Tiba-tiba saja suara jadi menghilang. (sindrom mentoring)
Setelah tilawah, mulailah mba Tri mengisi materi. Saya terkantuk-kantuk mendengar suaranya yang halus, merdu, apalagi saat beliau tilawah. Hm…. Pengen tidur lagi rasanya. (dasar murid mentor bandel).
Entah sudah tertidur sepersekian menit, saya dikagetkan dengan pertanyaan mba tri.
“ Lis, itu poster siapa?” tunjuknya kea rah poster besar tepat di depan pintu kamar saya. Poster berukuran 1m x 1,5 m, gambar Axl Roses (vokalis dari grup music Gun’s and Roses).
Mendadak saat itu juga kantuk saya hilang.
“ Poster saya mba,” jawab saya gelagapan
“ Idolanya lis ya?” Tanya mba Tri lagi tetap dengan nada yang datar dan senyum di bibirnya.
“ Ya….gitu deh, seneng aja sama lagu-lagunya. Sama orangnya juga abis cakep sih, keren, macho.” Jawab saya polos, duh kok ya pede banget jawabnya kaya gitu. Keceplosan euy.
“ Oh…, jadi idolanya Lis si Axl Rose itu ya? apa lis juga tau Axl itu agamanya apa, kegiatan nya seperti apa, apa patut menjadi idola? mau tau ga sosok yang pantas dijadikan Idola. Cowok ini ga kalah keren loh sama si vokalis itu.” Sanggah mba Tri.
Saya jadi penasaran. Sebetulnys siapa sosok yang pantas dijadikan Idola, bahkan oleh jilbaber sekelas mba Tri. Fikiran saya mulai menebak-nebak siapa sosok itu.
“ Mba, siapa yang pantes kita idolakan?” Tanya saya dengan penasaran.
“ Beliau sosok yang sangat mulia, tampan pula, baik tutur katanya, akhlaknya adalah Qur’an berjalan. Beliau sangat mencintai Allah dan Allahpun sangat cinta padanya. Mendapat gelar Al Amin, Karena kejujurannya. Mencintai Orang miskin, dan hatinya sangatlah lembut. Pastinya Lis sudah tau siapa sosok yang patut dijadikan Idola. Ya dialah Rasulullah…” Demikian penjelasan mba Tri.
Membuat saya tersadar dan malu, bahwa tidak sepantasnya saya mengidolakan sosok vokalis yang seperti itu. Bahkan ini di bahas saat mentoring pula. Duh… malu…, rasanya merah kuning hijau di langit yang kelabu deh, wajah saya saat itu.
Sementara teman mentor yang lain cuma mesem- mesem aja. Dasar assshem, kenapa ga ada yang mengingatkan saya tentang poster itu. Coba ada yang mengingatkan untuk mencopot sebelum acara mentor dimulai, pastinya saya tidak mendapat 2 sks masalah Idola. Tapi biarlah…, mungkin ini sudah rencana Allah, agar saya tersadar dari hal yang salah, mengidolakan orang yang salah.
Terimakasih mba Tri, untuk tausiyah singkatnya. Poster itu akan saya copot dan simpan di kolong tempat tidur. Biar jadi temannya kecoa saja.
Mecoba membersihkan kamar tidur, sesekali kejedut pinggir dipan & kaki meja. Maklum, nyapu sambil merem. Merasa agak pede kalau kamar bersih, lagi harum. baby cologne sengaja dicipratin ke penjuru ruangan. (ga modal banget ya). Yakin kamar bersih, kinclong, tak ada debu di meja sayapun menyiapkan panganan kecil untuk teman-teman yang nanti datang.
Sekitar jam tujuh, satu persatu teman mentor datang. Yang paling pagi justru mba Tri (kakak tingkat 2), jilbaber yang ditugaskan dosen Agama untuk membimbing kami mantor. Berbekal segudang kesabaran mba Tri menghadapi kami anak-anak nakal.
Perlu pembaca tau, tempat kos-kosan saya adalah sebuah rumah dengan tujuh kamar tidur (semua di isi anak kos) dengan tidak ditunggui sang pemilik kos. Kami bertujuh perempuan semua (pasti lah..). kamar saya terletak dibelakang berdekatan dengan 2 kamar tidur lainnya, mengelilingi kolam ikan, dan ruangan untuk sektrika. Sebelah kamar saya langsung kamar mandi. Jadi dengan mudah saya tidak perlu antri, atau sambil merem juga bisa ke kamar mandi.
Kamar tanpa AC tapi adem. Namanya juga di bogor, maklum atuh adem. Back to mentor….
Mentoringpun dimulai dengan membaca basmalah, tilawah Qur’an berkeliling. Saya sempet degdegan pas dapet jatah membaca Qur’an. Maklum…, sekedar baca sih bisa, tapi tajwidnya…ampuuuun…, banyak salah. Keringet dingin sampe ngucur saat disuruh ngaji. Tiba-tiba saja suara jadi menghilang. (sindrom mentoring)
Setelah tilawah, mulailah mba Tri mengisi materi. Saya terkantuk-kantuk mendengar suaranya yang halus, merdu, apalagi saat beliau tilawah. Hm…. Pengen tidur lagi rasanya. (dasar murid mentor bandel).
Entah sudah tertidur sepersekian menit, saya dikagetkan dengan pertanyaan mba tri.
“ Lis, itu poster siapa?” tunjuknya kea rah poster besar tepat di depan pintu kamar saya. Poster berukuran 1m x 1,5 m, gambar Axl Roses (vokalis dari grup music Gun’s and Roses).
Mendadak saat itu juga kantuk saya hilang.
“ Poster saya mba,” jawab saya gelagapan
“ Idolanya lis ya?” Tanya mba Tri lagi tetap dengan nada yang datar dan senyum di bibirnya.
“ Ya….gitu deh, seneng aja sama lagu-lagunya. Sama orangnya juga abis cakep sih, keren, macho.” Jawab saya polos, duh kok ya pede banget jawabnya kaya gitu. Keceplosan euy.
“ Oh…, jadi idolanya Lis si Axl Rose itu ya? apa lis juga tau Axl itu agamanya apa, kegiatan nya seperti apa, apa patut menjadi idola? mau tau ga sosok yang pantas dijadikan Idola. Cowok ini ga kalah keren loh sama si vokalis itu.” Sanggah mba Tri.
Saya jadi penasaran. Sebetulnys siapa sosok yang pantas dijadikan Idola, bahkan oleh jilbaber sekelas mba Tri. Fikiran saya mulai menebak-nebak siapa sosok itu.
“ Mba, siapa yang pantes kita idolakan?” Tanya saya dengan penasaran.
“ Beliau sosok yang sangat mulia, tampan pula, baik tutur katanya, akhlaknya adalah Qur’an berjalan. Beliau sangat mencintai Allah dan Allahpun sangat cinta padanya. Mendapat gelar Al Amin, Karena kejujurannya. Mencintai Orang miskin, dan hatinya sangatlah lembut. Pastinya Lis sudah tau siapa sosok yang patut dijadikan Idola. Ya dialah Rasulullah…” Demikian penjelasan mba Tri.
Membuat saya tersadar dan malu, bahwa tidak sepantasnya saya mengidolakan sosok vokalis yang seperti itu. Bahkan ini di bahas saat mentoring pula. Duh… malu…, rasanya merah kuning hijau di langit yang kelabu deh, wajah saya saat itu.
Sementara teman mentor yang lain cuma mesem- mesem aja. Dasar assshem, kenapa ga ada yang mengingatkan saya tentang poster itu. Coba ada yang mengingatkan untuk mencopot sebelum acara mentor dimulai, pastinya saya tidak mendapat 2 sks masalah Idola. Tapi biarlah…, mungkin ini sudah rencana Allah, agar saya tersadar dari hal yang salah, mengidolakan orang yang salah.
Terimakasih mba Tri, untuk tausiyah singkatnya. Poster itu akan saya copot dan simpan di kolong tempat tidur. Biar jadi temannya kecoa saja.
Rabu, 21 Juli 2010
Pencuri di Masjid
Palembang 23.59 WIB
Setelah delayed hampir tiga jam, akhirnya pesawat yang saya tumpangi berangkat juga ke kota Sriwijaya. Duduk diantara sesama penumpang pesawat jurusan Palembang, membuat saya rindu rumah, tepatnya rindu suasana rumah mami (ibu mertua) yang notabene wong kito galo.
Ada peristiwa yang memalukan terjadi.
Saat sholat maghrib tiba, saya bergegas ke mushola sementara di dalamnya sudah banyak pula yang siap –siap hendak sholat magrib. Karena pesawat delay sampai jam 18.55, saya lantas ikut barisan sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, saya siap – siap untuk ke ruangan tunggu B3, tujuan Palembang.
Saya mencari kaus kaki yang seingat saya, diletakan di atas tas coklat. Karena tidak ketemu, lantas berusaha mencari di sekelilingnya. Kemudian tak lama melihat ada sepasang kaus kaki (bertengger di atas rak). Lantas saya ambil kaus kaki tersebut dan diamati sejenak, “ah…ini dia kaus kakiku,” merasa yakin bahwa kaus kaki itu adalah milik saya, karena warna, ukuran dan model yang sama.
Kembali saya duduk diruang tunggu, bersama dengan penumpang tujuan Pontianak dan Denpasar yang juga delayed. Badan yang sudah pegal, gerah, haus, dan lapar pula. Membuat diri ini malas untuk keluar dari ruang tunggu, sekedar mencari peganjal perut. Alhamdulillahnya ada snack & minuman dari pihak maskapai penerbangan yang akan kami tumpangi. Sempat juga mencium harumnya Hokben di bangku sebelah (hm…tambah laper aja nih perut, kok beliau ga nawarin saya ya…)
Jam 20.35 malam, akhirnya pesawat berangkat. Dalam pesawat saya tidak bisa tidur nyenyak, karena perut yang keroncongan, tidak mempan disumpal roti (maklum orang Indonesia asli). Saya berhayal, sampai di Palembang nanti enaknya makan tekwan yang hangat. Hm…yummy.
Alhamdulillah,…..Allah mendengar doa saya. (yang sedang lapar), pihak maskapai ternyata menyediakan makan malam “HOKBEN” kesampaian juga….akhirnya. Setelah makan, mata pun mulai ngantuk, mau baca buku sudah tidak mood (lagipula sedari tadi baca buku terus diruang tunggu). Merem sebentar…tau-tau sudah sampai.
Janjian dengan rekan kerja yang berangkat dari Pekanbaru (yang juga delay). Menurut perkiraan, saya harusnya sampai duluan di Palembang, tapi karena delay lumayan lama. Akhirnya merekalah yang lama menunggu saya dibandara.
Setengah sepuluh malam sampai di Palembang. (penasaran dengan jembatan Ampera) maklum baru pertama kali ke Palembang, agak norak sedikit.
Setelah say hello dengan penjemput & teman kerja kamipun meluncur ke Plaju, mess pertamina. Karena besok pagi harus presentasi ke Prabumulih. Sekitar 2 – 3 jam dari Plaju.
Bangunan tua (jaman belanda mungkin), jendelanya besar – besar, kamarnya luas, dengan furniture kayu jati asli. Ruangan depan ada sofa yang sudah agak kusam. Langit – langit kamar pun warnanya tak jauh beda, sama kusamnya. Kamar mandinya berukuran 4 meter x 3 meter, cukup luas.
Setelah melihat sekeliling, saya bersiap untuk sholat isya. Tas mulai dibongkar, mengeluarkan mukena, dan peralatan mandi. Saat membuka tas, saya terkejut menemukan sepasang kaus kaki .
Astaghfirullah…, baru tersadar, kaus kaki yang saya cari saat selesai sholat magrib di bandara Sukarno Hatta. Jadi kaus kaki yang saya pakai ini punya siapa?.....
Ya Allah…., ampuni hamba , yang benar – benar tidak sengaja mengambil kaus kaki yang bukan miliknya.
Moga si empunya kaus kaki, mengikhlaskan. Terbayang deh, wajah si pemilik kaus kaki. Pastinya dia mencari kaus kakinya, yang hilang. Di Masjid pula. Ada pencuri kaus kaki dalam masjid? Hal yang memalukan.
Kalaupun saya mau mengembalikan, harus saya kembalikan kemana, dan kepada siapa?
Benar – benar hari yang lengkap.
Setelah delayed hampir tiga jam, akhirnya pesawat yang saya tumpangi berangkat juga ke kota Sriwijaya. Duduk diantara sesama penumpang pesawat jurusan Palembang, membuat saya rindu rumah, tepatnya rindu suasana rumah mami (ibu mertua) yang notabene wong kito galo.
Ada peristiwa yang memalukan terjadi.
Saat sholat maghrib tiba, saya bergegas ke mushola sementara di dalamnya sudah banyak pula yang siap –siap hendak sholat magrib. Karena pesawat delay sampai jam 18.55, saya lantas ikut barisan sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, saya siap – siap untuk ke ruangan tunggu B3, tujuan Palembang.
Saya mencari kaus kaki yang seingat saya, diletakan di atas tas coklat. Karena tidak ketemu, lantas berusaha mencari di sekelilingnya. Kemudian tak lama melihat ada sepasang kaus kaki (bertengger di atas rak). Lantas saya ambil kaus kaki tersebut dan diamati sejenak, “ah…ini dia kaus kakiku,” merasa yakin bahwa kaus kaki itu adalah milik saya, karena warna, ukuran dan model yang sama.
Kembali saya duduk diruang tunggu, bersama dengan penumpang tujuan Pontianak dan Denpasar yang juga delayed. Badan yang sudah pegal, gerah, haus, dan lapar pula. Membuat diri ini malas untuk keluar dari ruang tunggu, sekedar mencari peganjal perut. Alhamdulillahnya ada snack & minuman dari pihak maskapai penerbangan yang akan kami tumpangi. Sempat juga mencium harumnya Hokben di bangku sebelah (hm…tambah laper aja nih perut, kok beliau ga nawarin saya ya…)
Jam 20.35 malam, akhirnya pesawat berangkat. Dalam pesawat saya tidak bisa tidur nyenyak, karena perut yang keroncongan, tidak mempan disumpal roti (maklum orang Indonesia asli). Saya berhayal, sampai di Palembang nanti enaknya makan tekwan yang hangat. Hm…yummy.
Alhamdulillah,…..Allah mendengar doa saya. (yang sedang lapar), pihak maskapai ternyata menyediakan makan malam “HOKBEN” kesampaian juga….akhirnya. Setelah makan, mata pun mulai ngantuk, mau baca buku sudah tidak mood (lagipula sedari tadi baca buku terus diruang tunggu). Merem sebentar…tau-tau sudah sampai.
Janjian dengan rekan kerja yang berangkat dari Pekanbaru (yang juga delay). Menurut perkiraan, saya harusnya sampai duluan di Palembang, tapi karena delay lumayan lama. Akhirnya merekalah yang lama menunggu saya dibandara.
Setengah sepuluh malam sampai di Palembang. (penasaran dengan jembatan Ampera) maklum baru pertama kali ke Palembang, agak norak sedikit.
Setelah say hello dengan penjemput & teman kerja kamipun meluncur ke Plaju, mess pertamina. Karena besok pagi harus presentasi ke Prabumulih. Sekitar 2 – 3 jam dari Plaju.
Bangunan tua (jaman belanda mungkin), jendelanya besar – besar, kamarnya luas, dengan furniture kayu jati asli. Ruangan depan ada sofa yang sudah agak kusam. Langit – langit kamar pun warnanya tak jauh beda, sama kusamnya. Kamar mandinya berukuran 4 meter x 3 meter, cukup luas.
Setelah melihat sekeliling, saya bersiap untuk sholat isya. Tas mulai dibongkar, mengeluarkan mukena, dan peralatan mandi. Saat membuka tas, saya terkejut menemukan sepasang kaus kaki .
Astaghfirullah…, baru tersadar, kaus kaki yang saya cari saat selesai sholat magrib di bandara Sukarno Hatta. Jadi kaus kaki yang saya pakai ini punya siapa?.....
Ya Allah…., ampuni hamba , yang benar – benar tidak sengaja mengambil kaus kaki yang bukan miliknya.
Moga si empunya kaus kaki, mengikhlaskan. Terbayang deh, wajah si pemilik kaus kaki. Pastinya dia mencari kaus kakinya, yang hilang. Di Masjid pula. Ada pencuri kaus kaki dalam masjid? Hal yang memalukan.
Kalaupun saya mau mengembalikan, harus saya kembalikan kemana, dan kepada siapa?
Benar – benar hari yang lengkap.
Langganan:
Postingan (Atom)