Jadwal pengajian pagi, alias mentor memenuhi MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) Agama Islam semester satu. Hari ini rasanya malas betul untuk tetap terjaga setelah semalaman begadang mengerjakan laporan praktikum Kimia Dasar. Inginnya segera menarik selimut dan melanjutkan mimpi. Alih alih tidur pulas saya harus bergegas mempersiapkan acara mentor karena kali ini kebagian menjadi tuan rumah.
Mecoba membersihkan kamar tidur, sesekali kejedut pinggir dipan & kaki meja. Maklum, nyapu sambil merem. Merasa agak pede kalau kamar bersih, lagi harum. baby cologne sengaja dicipratin ke penjuru ruangan. (ga modal banget ya). Yakin kamar bersih, kinclong, tak ada debu di meja sayapun menyiapkan panganan kecil untuk teman-teman yang nanti datang.
Sekitar jam tujuh, satu persatu teman mentor datang. Yang paling pagi justru mba Tri (kakak tingkat 2), jilbaber yang ditugaskan dosen Agama untuk membimbing kami mantor. Berbekal segudang kesabaran mba Tri menghadapi kami anak-anak nakal.
Perlu pembaca tau, tempat kos-kosan saya adalah sebuah rumah dengan tujuh kamar tidur (semua di isi anak kos) dengan tidak ditunggui sang pemilik kos. Kami bertujuh perempuan semua (pasti lah..). kamar saya terletak dibelakang berdekatan dengan 2 kamar tidur lainnya, mengelilingi kolam ikan, dan ruangan untuk sektrika. Sebelah kamar saya langsung kamar mandi. Jadi dengan mudah saya tidak perlu antri, atau sambil merem juga bisa ke kamar mandi.
Kamar tanpa AC tapi adem. Namanya juga di bogor, maklum atuh adem. Back to mentor….
Mentoringpun dimulai dengan membaca basmalah, tilawah Qur’an berkeliling. Saya sempet degdegan pas dapet jatah membaca Qur’an. Maklum…, sekedar baca sih bisa, tapi tajwidnya…ampuuuun…, banyak salah. Keringet dingin sampe ngucur saat disuruh ngaji. Tiba-tiba saja suara jadi menghilang. (sindrom mentoring)
Setelah tilawah, mulailah mba Tri mengisi materi. Saya terkantuk-kantuk mendengar suaranya yang halus, merdu, apalagi saat beliau tilawah. Hm…. Pengen tidur lagi rasanya. (dasar murid mentor bandel).
Entah sudah tertidur sepersekian menit, saya dikagetkan dengan pertanyaan mba tri.
“ Lis, itu poster siapa?” tunjuknya kea rah poster besar tepat di depan pintu kamar saya. Poster berukuran 1m x 1,5 m, gambar Axl Roses (vokalis dari grup music Gun’s and Roses).
Mendadak saat itu juga kantuk saya hilang.
“ Poster saya mba,” jawab saya gelagapan
“ Idolanya lis ya?” Tanya mba Tri lagi tetap dengan nada yang datar dan senyum di bibirnya.
“ Ya….gitu deh, seneng aja sama lagu-lagunya. Sama orangnya juga abis cakep sih, keren, macho.” Jawab saya polos, duh kok ya pede banget jawabnya kaya gitu. Keceplosan euy.
“ Oh…, jadi idolanya Lis si Axl Rose itu ya? apa lis juga tau Axl itu agamanya apa, kegiatan nya seperti apa, apa patut menjadi idola? mau tau ga sosok yang pantas dijadikan Idola. Cowok ini ga kalah keren loh sama si vokalis itu.” Sanggah mba Tri.
Saya jadi penasaran. Sebetulnys siapa sosok yang pantas dijadikan Idola, bahkan oleh jilbaber sekelas mba Tri. Fikiran saya mulai menebak-nebak siapa sosok itu.
“ Mba, siapa yang pantes kita idolakan?” Tanya saya dengan penasaran.
“ Beliau sosok yang sangat mulia, tampan pula, baik tutur katanya, akhlaknya adalah Qur’an berjalan. Beliau sangat mencintai Allah dan Allahpun sangat cinta padanya. Mendapat gelar Al Amin, Karena kejujurannya. Mencintai Orang miskin, dan hatinya sangatlah lembut. Pastinya Lis sudah tau siapa sosok yang patut dijadikan Idola. Ya dialah Rasulullah…” Demikian penjelasan mba Tri.
Membuat saya tersadar dan malu, bahwa tidak sepantasnya saya mengidolakan sosok vokalis yang seperti itu. Bahkan ini di bahas saat mentoring pula. Duh… malu…, rasanya merah kuning hijau di langit yang kelabu deh, wajah saya saat itu.
Sementara teman mentor yang lain cuma mesem- mesem aja. Dasar assshem, kenapa ga ada yang mengingatkan saya tentang poster itu. Coba ada yang mengingatkan untuk mencopot sebelum acara mentor dimulai, pastinya saya tidak mendapat 2 sks masalah Idola. Tapi biarlah…, mungkin ini sudah rencana Allah, agar saya tersadar dari hal yang salah, mengidolakan orang yang salah.
Terimakasih mba Tri, untuk tausiyah singkatnya. Poster itu akan saya copot dan simpan di kolong tempat tidur. Biar jadi temannya kecoa saja.
Tampilkan postingan dengan label Serial si Tomboy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial si Tomboy. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Juli 2010
Rabu, 21 Juli 2010
Ribut mulut dengan pemabuk
Berbagai kejadian aneh bin ajaib sering dialami, akibat sikap tomboy saya. Kali ini agak parah, hampir berkelahi diangkot, gara – gara saya dikira “cowok”. Saat itu saya mau ke rumah kakak di daerah ciracas, dari condet kami (saya & mba susi) naik angkot 07 kemudian nyambung naik angkot 03 jurusan cililitan kelapa dua, di angkot tersebut saya duduk dipojok bagian kanan (yang bangku pendek untuk 4 orang penumpang), sementara kaka saya (mba susi) duduk di bagian kiri (yang isinya untuk 6 orang penumpang) di depan saya duduk dua orang lelaki (mungkin umurnya di atas saya dua atau 3 tahun), di sebelahnya ada jatah untuk satu orang lagi, kemudian tempat duduk mba susi.
Awalnya saya sudah menaruh curiga terhadap penumpang di depan saya.Wajahnya lusuh, matanya merah dan agak berbau alkohol (satu orang) yang satu biasa saja, tidak mencurigakan. Angkot kali ini berhenti untuk mengmbil penumpang. Dua orang naik (ibu – ibu pula), satu orang duduk di bangku tambahan, satu lagi duduk di bangku 6 (deretan mba susi), tapi karena “penumpang mata merah” di depan saya tidak mau bergeser, alias maunya deket – deket ke mba susi. Akhirnya saya angkat bicara.
“ Tolong geseran dikit dong, kasian ibu itu duduknya susah” saya bicara dengan nada yang biasa, tapi malah dijawab nyolot
“ Mau apa lu, mau ribut?” jawabnya
“ Saya ga mau ribut, Cuma minta tolong duduknya minggir sedikit, ibu itu mau duduk juga” jawab saya yang agak naik intonasinya
“ Jadi mau lu apa?, gua ga mau geser,mau ribut lu?” dengan nada yang makin meninggi, dan posisi tangan mengepal, seperti mau meninju saya.
“ Saya ga mau ribut, Lu aja yang ga bisa mikir. Kasian tuh ibu-ibu mau duduk susah gara-gara elu ga mau geser dikit, emang ini mobil Lu” jawab saya yang agak sewot juga.
“ Eh udah….udah…., ga tau malu. Beraninya sama perempuan” akhirnya mba susi ikut bicara. Mungkin takut juga kalau adiknya ini di apa-apain sama cowok bermata merah itu.
“ Eh…, elu cewek, bukannya cowok?” dia balik bertanya pada saya
“Emang kenapa kalo cewek” saya jawab dengan ketus
“ Gue kirain cowok” jawabnya pelan, sambil menundukkan kepalanya. Malu mungkin.
Dalam hati, saya bersyukur, “Alhamdulillah”……, kalo tidak ditengahi oleh mba susi, mungkin sudah adu jotos di angkot. Tidak lama kemudian mereka berdua turun, sambil tak lupa minta maaf pada kami.
“Lis, besok – besok jangan begitu lagi ya, tadi hampir aja berantem sama orang”. Mba susi mengingatkan saya.
Saya Cuma bisa nyengir, tapi dalam hati berjanji, besok harus lebih hati – hati lagi.
Awalnya saya sudah menaruh curiga terhadap penumpang di depan saya.Wajahnya lusuh, matanya merah dan agak berbau alkohol (satu orang) yang satu biasa saja, tidak mencurigakan. Angkot kali ini berhenti untuk mengmbil penumpang. Dua orang naik (ibu – ibu pula), satu orang duduk di bangku tambahan, satu lagi duduk di bangku 6 (deretan mba susi), tapi karena “penumpang mata merah” di depan saya tidak mau bergeser, alias maunya deket – deket ke mba susi. Akhirnya saya angkat bicara.
“ Tolong geseran dikit dong, kasian ibu itu duduknya susah” saya bicara dengan nada yang biasa, tapi malah dijawab nyolot
“ Mau apa lu, mau ribut?” jawabnya
“ Saya ga mau ribut, Cuma minta tolong duduknya minggir sedikit, ibu itu mau duduk juga” jawab saya yang agak naik intonasinya
“ Jadi mau lu apa?, gua ga mau geser,mau ribut lu?” dengan nada yang makin meninggi, dan posisi tangan mengepal, seperti mau meninju saya.
“ Saya ga mau ribut, Lu aja yang ga bisa mikir. Kasian tuh ibu-ibu mau duduk susah gara-gara elu ga mau geser dikit, emang ini mobil Lu” jawab saya yang agak sewot juga.
“ Eh udah….udah…., ga tau malu. Beraninya sama perempuan” akhirnya mba susi ikut bicara. Mungkin takut juga kalau adiknya ini di apa-apain sama cowok bermata merah itu.
“ Eh…, elu cewek, bukannya cowok?” dia balik bertanya pada saya
“Emang kenapa kalo cewek” saya jawab dengan ketus
“ Gue kirain cowok” jawabnya pelan, sambil menundukkan kepalanya. Malu mungkin.
Dalam hati, saya bersyukur, “Alhamdulillah”……, kalo tidak ditengahi oleh mba susi, mungkin sudah adu jotos di angkot. Tidak lama kemudian mereka berdua turun, sambil tak lupa minta maaf pada kami.
“Lis, besok – besok jangan begitu lagi ya, tadi hampir aja berantem sama orang”. Mba susi mengingatkan saya.
Saya Cuma bisa nyengir, tapi dalam hati berjanji, besok harus lebih hati – hati lagi.
Bukan “mas-mas”
Pas tahun 96, saat penerimaan mahasiswa baru, saya yg senior ikutan acara ospek di kampus. Bertugas sebagai PJS (Petugas Jaga Harian) dari sebuah kelompok mahasiswa baru. Saat itu ada seorang cama (calon mahasiswa) protes kepada senior yang lain, bahwa kelompoknya punya pjs tidak ada perempuannya. Kebetulan saya yang pegang kelompoknya. Waduh….saya dianggap laki-laki rupanya? Separah itukah tomboynya saya? senior yang lain jadi ramai, ada tertawa, ada juga yang sedih (khususnya teman – teman saya yg sudah berjilbab rapi, dan para ikhwan beneran tentunya).
“Tuh …kan, salah liat deh adik kita, besok – besok tomboynya kurangin deh lis” begitu salah satu ucapan yang sempat saya ingat.
Saat itu saya hanya menanggapi sengan tidak serius. Tapi lama kelamaan sempat jadi fikiran juga. Karena saya pernah baca (bahkan berkali – kali) tentang laknat Allah pada laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Na udzubilah…., jangan sampai saya dilaknat oleh Allah, karena saya berpenampilan seperti laki – laki.
Setelah saya ingat – ingat memang saya berpenampilan seperti laki – laki, sepotong rok pun saya tidak punya (saat sekolah hanya rok seragam saja yang saya punya), rambut hampir selalu cepak, pakaian sehari – hari jeans belel, kaus panjang, kemeja panjang, atau pakai sweater (karena dulu bogor lumayan dingin dan sering hujan), sepatu keds, make up…, waduh boro – boro deh. Pake bedak sebatas bedak bayi, karena kulit saya agak sensitif (ga bisa pake bedak macem –macem), dan satu lagi yang ga pernah ketinggalan, saya selalu pakai topi. Entah kenapa, saya merasa nyaman dengan topi.
Selain bisa mengurangi wajah yang terpapar matahari, saya juga bisa bersembunyi untuk tidur saat dikendaraan umum. Kalao sudah begitu, tak jarang orang salah panggil ke saya. seperti saat saya pulang ke jakarta bersama ita teman saya sekelas, saya dipanggil mas sama pedagang asongan. Pernah juga saat ke mall dengan yuli (teman sekelas saya juga), kami bertemu dengan senior, eh….dikiranya kami lagi pacaran (ih….ngawur) pas deket baru dia ngeh bahwa yang dikira cowoknya yuli adalah saya ( cewek juga gitu loh).
Kejadian lainnya saat saya pulang kemaleman, diangkot saya ketemu sama ibu – ibu, yang ternyata memperhatikan saya cukup lama, mungkin karena saking penasarannya beliau bertanya sama saya.
“ maaf mba atau mas ya?” tanya beliau dengan sopan.
“ mba bu, saya perempuan,” jawab saya, sambil nyengir.
“oh….pantes, saya fikir laki – laki, hati – hati nak, sudah malem, sendirian ya?” tanya beliau lagi.
“ iya bu, sendirian, mau pulang ke rumah, baru pulang dari kuliah di bogor, tolong doakan ya bu, biar selamat sampe rumah” jawab saya. tak lama saya pun turun dari angkot.
_________
Hari yang lain
Berdiri berjejalan dalam bis kota sudah jadi pemandangan umum di kota besar. Saat ini di depan mata saya banyak penumpang pria yang sampai hati membiarkan seorang ibu kerepotan membawa dua anak kecil dengan posisi berdiri. Satu tangannya tetap berpegangan pada senderan kursi, sementara tangan yang lain memegang tangan anaknya. Tak tega melihatnya, dengan cepat saya berdiri untuk mempersilahkan ibu itu duduk. Dengan tidak berkata sepatahpun, saya hanya mencolek tangan ibu tersebut.
“Makasih ya mas…” ucapnya.
Waduh… kok dibilang mas, mau menjelaskan sepertinya ga penting deh, lagi pula sebentar lagi saya harus turun. Hanya sempat senyum saja, menanggapi ucapan termakasihnya. Kemudian saya turun di sebuh halte.
Sementara tujuan masih jauh, harus beberapa kali lagi menyambung angkot, dan terakhir naik ojek. Saya mulai mengamati penampilan diri sendiri kali ini, celana jeans belel gombrong yang sudah ada sobekan kecil di bagian tumitnya, sweater abu-abu, dengan kemeja putih garis-garis didalamnya, plus tak ketinggalan topi pet jeans (bergambar logo MTv), sepatu All star yang warnanya sudah tak jelas lagi. Mungkin penampilan ini yang jadi penyebab saya dipanggil mas oleh ibu tadi. Masa sih…tampang saya, tidak ada cewek-ceweknya banget.
Ah…biar sajalah…, selama saya tidak merugikan orang lain, kenapa pusing.
Mulai terasa agak haus, saya mencoba memanggil pedagang asongan di sekitar halte. Seorang bapak menghampiri.
“Mau beli apa toh mas? Rokok atau minum?” tanyanya
Duh…, dua kali dipanggil mas hari ini. Sambil nyengir saya jawab bapak itu
“Mau beli minum.” Jawab saya
“Adek ini perempuan apa laki?” tanyanya lagi, sambil menyerahkan sebotol minumam dingin pada saya.
“Perempuan pak, memangnya kelihatannya saya seperti apa pak?” Tanya saya penuh selidik, sambil meneguk isi botol
“ Oh… walah…., saya kira laki-laki, lah wong rambutnya pendek, pake topi, badannya juga kaya laki, tapi saya penasaran denger suaranya kok kaya perempuan, makanya saya Tanya. Adek ini perempuan apa laki. Maaf ya dek, kalo saya tadi salah panggil” jelas bapak itu dengan malu-malu
“ ga apa pak, hari ini bapak orang kedua yang manggil saya ‘mas’, tadi di bis juga saya dipanggil mas.” Saya menjelaskan sambil nyengir garing.
Angkot yang ditunggu akhirnya kelihatan juga, dengan berbegas sayapun berdiri, siap-siap menyetop angkot. Siang panas begini mana betah lama-lama nongkrong di halte Cililitan. Goshong booo..
“ Ayo..mas, masih kosong…, centex…centex…., klapadua –klapadua.” Teriak supir angkot sambil melambaikan tangannya ke arah saya.
What…. tiga kali dalam sehari saya dipanggil mas (kaya minum obat aja). Sekali lagi dipanggil mas, besok saya bakal pake kaus dengan tulisan ‘100% wanita tulen’.
“Tuh …kan, salah liat deh adik kita, besok – besok tomboynya kurangin deh lis” begitu salah satu ucapan yang sempat saya ingat.
Saat itu saya hanya menanggapi sengan tidak serius. Tapi lama kelamaan sempat jadi fikiran juga. Karena saya pernah baca (bahkan berkali – kali) tentang laknat Allah pada laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Na udzubilah…., jangan sampai saya dilaknat oleh Allah, karena saya berpenampilan seperti laki – laki.
Setelah saya ingat – ingat memang saya berpenampilan seperti laki – laki, sepotong rok pun saya tidak punya (saat sekolah hanya rok seragam saja yang saya punya), rambut hampir selalu cepak, pakaian sehari – hari jeans belel, kaus panjang, kemeja panjang, atau pakai sweater (karena dulu bogor lumayan dingin dan sering hujan), sepatu keds, make up…, waduh boro – boro deh. Pake bedak sebatas bedak bayi, karena kulit saya agak sensitif (ga bisa pake bedak macem –macem), dan satu lagi yang ga pernah ketinggalan, saya selalu pakai topi. Entah kenapa, saya merasa nyaman dengan topi.
Selain bisa mengurangi wajah yang terpapar matahari, saya juga bisa bersembunyi untuk tidur saat dikendaraan umum. Kalao sudah begitu, tak jarang orang salah panggil ke saya. seperti saat saya pulang ke jakarta bersama ita teman saya sekelas, saya dipanggil mas sama pedagang asongan. Pernah juga saat ke mall dengan yuli (teman sekelas saya juga), kami bertemu dengan senior, eh….dikiranya kami lagi pacaran (ih….ngawur) pas deket baru dia ngeh bahwa yang dikira cowoknya yuli adalah saya ( cewek juga gitu loh).
Kejadian lainnya saat saya pulang kemaleman, diangkot saya ketemu sama ibu – ibu, yang ternyata memperhatikan saya cukup lama, mungkin karena saking penasarannya beliau bertanya sama saya.
“ maaf mba atau mas ya?” tanya beliau dengan sopan.
“ mba bu, saya perempuan,” jawab saya, sambil nyengir.
“oh….pantes, saya fikir laki – laki, hati – hati nak, sudah malem, sendirian ya?” tanya beliau lagi.
“ iya bu, sendirian, mau pulang ke rumah, baru pulang dari kuliah di bogor, tolong doakan ya bu, biar selamat sampe rumah” jawab saya. tak lama saya pun turun dari angkot.
_________
Hari yang lain
Berdiri berjejalan dalam bis kota sudah jadi pemandangan umum di kota besar. Saat ini di depan mata saya banyak penumpang pria yang sampai hati membiarkan seorang ibu kerepotan membawa dua anak kecil dengan posisi berdiri. Satu tangannya tetap berpegangan pada senderan kursi, sementara tangan yang lain memegang tangan anaknya. Tak tega melihatnya, dengan cepat saya berdiri untuk mempersilahkan ibu itu duduk. Dengan tidak berkata sepatahpun, saya hanya mencolek tangan ibu tersebut.
“Makasih ya mas…” ucapnya.
Waduh… kok dibilang mas, mau menjelaskan sepertinya ga penting deh, lagi pula sebentar lagi saya harus turun. Hanya sempat senyum saja, menanggapi ucapan termakasihnya. Kemudian saya turun di sebuh halte.
Sementara tujuan masih jauh, harus beberapa kali lagi menyambung angkot, dan terakhir naik ojek. Saya mulai mengamati penampilan diri sendiri kali ini, celana jeans belel gombrong yang sudah ada sobekan kecil di bagian tumitnya, sweater abu-abu, dengan kemeja putih garis-garis didalamnya, plus tak ketinggalan topi pet jeans (bergambar logo MTv), sepatu All star yang warnanya sudah tak jelas lagi. Mungkin penampilan ini yang jadi penyebab saya dipanggil mas oleh ibu tadi. Masa sih…tampang saya, tidak ada cewek-ceweknya banget.
Ah…biar sajalah…, selama saya tidak merugikan orang lain, kenapa pusing.
Mulai terasa agak haus, saya mencoba memanggil pedagang asongan di sekitar halte. Seorang bapak menghampiri.
“Mau beli apa toh mas? Rokok atau minum?” tanyanya
Duh…, dua kali dipanggil mas hari ini. Sambil nyengir saya jawab bapak itu
“Mau beli minum.” Jawab saya
“Adek ini perempuan apa laki?” tanyanya lagi, sambil menyerahkan sebotol minumam dingin pada saya.
“Perempuan pak, memangnya kelihatannya saya seperti apa pak?” Tanya saya penuh selidik, sambil meneguk isi botol
“ Oh… walah…., saya kira laki-laki, lah wong rambutnya pendek, pake topi, badannya juga kaya laki, tapi saya penasaran denger suaranya kok kaya perempuan, makanya saya Tanya. Adek ini perempuan apa laki. Maaf ya dek, kalo saya tadi salah panggil” jelas bapak itu dengan malu-malu
“ ga apa pak, hari ini bapak orang kedua yang manggil saya ‘mas’, tadi di bis juga saya dipanggil mas.” Saya menjelaskan sambil nyengir garing.
Angkot yang ditunggu akhirnya kelihatan juga, dengan berbegas sayapun berdiri, siap-siap menyetop angkot. Siang panas begini mana betah lama-lama nongkrong di halte Cililitan. Goshong booo..
“ Ayo..mas, masih kosong…, centex…centex…., klapadua –klapadua.” Teriak supir angkot sambil melambaikan tangannya ke arah saya.
What…. tiga kali dalam sehari saya dipanggil mas (kaya minum obat aja). Sekali lagi dipanggil mas, besok saya bakal pake kaus dengan tulisan ‘100% wanita tulen’.
Ditaksir cewek ABG
Pulang kuliah sabtu itu seperti biasanya, di mana-mana orang pada pasang-pasangan. Baru nyadar, kalo malam minggu tuh jadwalnya yang punya pasangan pada ngapel. (mending ngepel, bisa bikin bersih rumah).
Angkot hampir penuh, sayapun naik menjadi penumpang yang kesekian. Duduk di deretan bangku (yang jatahnya empat orang), dipojok pula. Sementara di depan saya duduk berjejer tiga cewek ABG berseragam SMU (putih abu-abu’er). Sekolah mana ya… yang baru mulangin siswanya jam stengah delapan malam, apa baru pada plang les? (bodo ah…males mikir). Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang ABG itu bicarakan, tapi karena judulnya angkot, sempit, dan tidak kedap suara pula. Yasud… ikutan nguping deh.
Mereka ngerumpi tentang cowok-cowok di sekolahnya. Si A bla…bla…bla, si B…Ble..ble…ble…, si O blo…blo..blo…(loh ini kok jadi kaya belajar mengeja). Lanjuuuut.
Sayapun akhirnya memperhatikan mereka, ketiganya berambut panjang (bukan pasukan kunti loh). Yang satu pake bando dengan rambut digerai (bikin orang disebelahnya kelilipan rambut kalo ketiup angin), yang satu lagi polem(poni lempar), nah yang satunya dikuncir kuda (tapi kalo ketawa ngga mirip kuda kok).
Dandanan mereka layaknya anak SMU, wajah tanpa make up, baju putih dengan logo OSIS di kantong, tapi yang bikin miris, adalah rok mereka yang di atas lutut, sehingga duduknya agak-agak gimana…gitu. Serba salah deh (salah sendiri pake rok kelewat pendek). Yang saya heran di sekolahnya ga ada razia rok pendek ya. (saat saya SMU dulu ada loh razia rok pendek).
Cape mendengarkan rumpian mereka sayapun mulai mengeluarkan buku bacaan (komik tepatnya). Tapi kok perasaan ga enak ya…, kaya ada yang ngeliatin saya (bukan kegeeran loh) siapakah gerangan.
Saat mengangkat wajah, ingin tau siapa yang sedang memperhatikan, tatapan mata saya beradu dengan salah satu ABG itu. Senyumnya mengembang. Saya bingung. Nih anak ngapain senyam senyum sama saya, kaya iklan pasta gigi begitu. Sementara kedua temennya cekakak cekikik sambil saling sikut. Waduh…. Tambah binun saya.
“ Mas, boleh kenalan ga? Baru pulang kuliah ya? Kuliah dimana? Jurusan Kimia ya? itu bukunya judulnya ada kimia-kimianya semua. Kali aja kita bisa kuliah di kampus mas” Berondongan pertanyaan meluncur dari ABG itu. Sambil menunjuk tumpukan buku kimia dipangkuan yang baru saya pinjam dari perpus kampus, untuk persiapan bikin laporan praktikum.
Hehehe….nyengir deh saya, lagi-lagi di sangka lelaki. Niat usil muncul dibenak saya. Mumpung suara saya sedang serak serak bechek karena Flu dan batuk yang belum sembuh. Agak mirip lelaki gitu deh…
“Saya Tio, kuliah di bogor jurusan kimia analisis.” Jawab saya singkat sambil mengulurkan tangan. Dalam hati melanjutkan nama panjang saya ‘dewi Sulis TIO wati’. Yang penting ga bohong kan.
Senyum merekapun semakin berkembang. Apalagi si ABG ‘kuncir kuda’ yang nanya saya.
“ Udah punya pacar belum, mau ga mas jadi pacar saya?” tanyanya lagi berani
Astaghfirullah…., ABG sekarang agresif banget ya…, maksudnya apa nih. Tanya pacar segala. Gaswat…gaswat…
“Dalam kamus saya ga pake pacara mba, langsung nikah aja.” Jawab saya sekenanya
“Wah…beruntung sekali calon istri mas. Saya mau dong jadi istrinya” mereka makin cekikikan ga karuan.
“ Beresin dulu sekolahnya, baru mikir nikah.” Jawab saya agak ketus, lama-lama bĂȘte juga ngeladenin ABG kaya gini. Enaknya diapain ya…
Mereka langsung merengut mendengar jawaban saya. Hihihi..rasakan. Makanya jadi ABG jangan kecentilan dong. Mending yang digodain cowok tulen, lah…ini sesama cewek.
Tok..tok…tok…,
“kiri pak, centex” sambil mengetuk langit-langit mobil sayapun bergegas turun dari angkot tak lupa meninggalkan pesan manis untuk para ABG itu.
“ Mba.., maaf ya…, saya perempuan, bukan lelaki. Besok-besok kalo mau godain orang liat-liat dulu” cuex saya turun.
Sempat melihat tampang kaget dan malu mereka, sementara ibu yang duduk disampingnya nyengir sambil geleng kepala.
Dalam hati saya berkata, semoga jadi pelajaran untuk mereka, teliti sebelum naksir… :D :D
Angkot hampir penuh, sayapun naik menjadi penumpang yang kesekian. Duduk di deretan bangku (yang jatahnya empat orang), dipojok pula. Sementara di depan saya duduk berjejer tiga cewek ABG berseragam SMU (putih abu-abu’er). Sekolah mana ya… yang baru mulangin siswanya jam stengah delapan malam, apa baru pada plang les? (bodo ah…males mikir). Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang ABG itu bicarakan, tapi karena judulnya angkot, sempit, dan tidak kedap suara pula. Yasud… ikutan nguping deh.
Mereka ngerumpi tentang cowok-cowok di sekolahnya. Si A bla…bla…bla, si B…Ble..ble…ble…, si O blo…blo..blo…(loh ini kok jadi kaya belajar mengeja). Lanjuuuut.
Sayapun akhirnya memperhatikan mereka, ketiganya berambut panjang (bukan pasukan kunti loh). Yang satu pake bando dengan rambut digerai (bikin orang disebelahnya kelilipan rambut kalo ketiup angin), yang satu lagi polem(poni lempar), nah yang satunya dikuncir kuda (tapi kalo ketawa ngga mirip kuda kok).
Dandanan mereka layaknya anak SMU, wajah tanpa make up, baju putih dengan logo OSIS di kantong, tapi yang bikin miris, adalah rok mereka yang di atas lutut, sehingga duduknya agak-agak gimana…gitu. Serba salah deh (salah sendiri pake rok kelewat pendek). Yang saya heran di sekolahnya ga ada razia rok pendek ya. (saat saya SMU dulu ada loh razia rok pendek).
Cape mendengarkan rumpian mereka sayapun mulai mengeluarkan buku bacaan (komik tepatnya). Tapi kok perasaan ga enak ya…, kaya ada yang ngeliatin saya (bukan kegeeran loh) siapakah gerangan.
Saat mengangkat wajah, ingin tau siapa yang sedang memperhatikan, tatapan mata saya beradu dengan salah satu ABG itu. Senyumnya mengembang. Saya bingung. Nih anak ngapain senyam senyum sama saya, kaya iklan pasta gigi begitu. Sementara kedua temennya cekakak cekikik sambil saling sikut. Waduh…. Tambah binun saya.
“ Mas, boleh kenalan ga? Baru pulang kuliah ya? Kuliah dimana? Jurusan Kimia ya? itu bukunya judulnya ada kimia-kimianya semua. Kali aja kita bisa kuliah di kampus mas” Berondongan pertanyaan meluncur dari ABG itu. Sambil menunjuk tumpukan buku kimia dipangkuan yang baru saya pinjam dari perpus kampus, untuk persiapan bikin laporan praktikum.
Hehehe….nyengir deh saya, lagi-lagi di sangka lelaki. Niat usil muncul dibenak saya. Mumpung suara saya sedang serak serak bechek karena Flu dan batuk yang belum sembuh. Agak mirip lelaki gitu deh…
“Saya Tio, kuliah di bogor jurusan kimia analisis.” Jawab saya singkat sambil mengulurkan tangan. Dalam hati melanjutkan nama panjang saya ‘dewi Sulis TIO wati’. Yang penting ga bohong kan.
Senyum merekapun semakin berkembang. Apalagi si ABG ‘kuncir kuda’ yang nanya saya.
“ Udah punya pacar belum, mau ga mas jadi pacar saya?” tanyanya lagi berani
Astaghfirullah…., ABG sekarang agresif banget ya…, maksudnya apa nih. Tanya pacar segala. Gaswat…gaswat…
“Dalam kamus saya ga pake pacara mba, langsung nikah aja.” Jawab saya sekenanya
“Wah…beruntung sekali calon istri mas. Saya mau dong jadi istrinya” mereka makin cekikikan ga karuan.
“ Beresin dulu sekolahnya, baru mikir nikah.” Jawab saya agak ketus, lama-lama bĂȘte juga ngeladenin ABG kaya gini. Enaknya diapain ya…
Mereka langsung merengut mendengar jawaban saya. Hihihi..rasakan. Makanya jadi ABG jangan kecentilan dong. Mending yang digodain cowok tulen, lah…ini sesama cewek.
Tok..tok…tok…,
“kiri pak, centex” sambil mengetuk langit-langit mobil sayapun bergegas turun dari angkot tak lupa meninggalkan pesan manis untuk para ABG itu.
“ Mba.., maaf ya…, saya perempuan, bukan lelaki. Besok-besok kalo mau godain orang liat-liat dulu” cuex saya turun.
Sempat melihat tampang kaget dan malu mereka, sementara ibu yang duduk disampingnya nyengir sambil geleng kepala.
Dalam hati saya berkata, semoga jadi pelajaran untuk mereka, teliti sebelum naksir… :D :D
Langganan:
Postingan (Atom)