Rabu, 21 Juli 2010

Unpleasant Journey

ON THE WAY TO DURI (SO ….TIRED)

Perjalanan tugas kali ini mengantar saya kembali ke duri-riau. Kota kecil di daerah penghasil minyak. Sesuai dengan keputusan bos besar, akhirnya saya harus berangkat untuk site visit dan sampling (mengambil contoh tanah yang tercemar minyak bumi).
Berat rasanya meninggalkan (lagi) kedua buah hati, untuk tugas luar kota. Tapi karena status sebagai pekerja (baca anak buah), mau tidak mau, suka atau tidak, harus berangkat juga. Lama-lama kerja di kantor ini seperti prajurit, yang harus “stand by” siap perang setiap saat dibutuhkan. Padahal masih banyak karyawan lain yang notabene lebih capable dan tidak digondeli buntut (baca anak) seperti saya. Entah apa pertimbangannya.

Perjalanan kali ini begitu banyak kendala yang harus dihadapi, semuanya diluar kendali dan kemampuan saya untuk mengontrolnya.

Petugas yang sedianya akan mengantar ke bandara sukarno hatta, mendadak diberikan tugas dadakan, dan tidak diketahui pasti kapan bisa kembali ke kantor dan mengantar kami (saya & dua orang teman) yang akan berangkat ke Duri. Alhamdulillah ada driver bos yang bisa mengantar kami.

Instrumen yang rencananya akan saya bawa, ternyata masih di teknisi. Tidak mungkin lagi menunggu alat sampai selesai baru saya berangkat. Akhirnya alat itu di tinggal, dan rencananya akan dibawa oleh kloter selanjutnya tgl 5 Des.

Jadwal berangkat molor satu jam dari rencana, karena urusan administrasi yang agak lambat. Di jalan kami kena macet yang ruarrr biasa, Stuck mulai masuk tol dalam kota (Halim sampai Slipi).

Sepanjang jalan menuju bandara, saya melihat langit gelap. Awan hitam yang menyelimuti kota membentuk ” twister” awan hitam membentuk gulungan yang menyambung dari langit sampai ke tanah, seperti akan terjadi badai tornado atau angin putting beliung (saya ngeri melihatnya) sayangnya tidak sempat saya abadikan dengan kamera. Dalam hati saya berdoa “ Ya Allah….selamatkan perjalanan kami.”

Dibandara, hampir saja alat yang saya bawa tidak bisa masuk. Dus yang memuat alat ternyata bekas bungkus chemical yang mudah terbakar. Jadilah alat tersebut dibongkar dibandara dan dipacking ulang, tempel stiker sana-sini untuk menutupi label “Hazardous material”. Begitu juga dengan dus berisi alat sampling yang dicurigai sebagai senjata . Padahal hanya “hand auger” untuk ngebor tanah. (Pffffuih… hampir saja alat itu tidak bisa kami bawa), belum lagi alat kerja team electric,bongkar dan packing ulang……

Alhamdulillah….akhirnya kami bisa mambawa semua alat masuk dalam bagasi “Special Handling”. Bisa bernafas lega.

Dalam pesawat, kekhawatiran saya muncul lagi. Tumben sang Pilot menjelaskan kondisi cuaca, lokasi posisi pesawat dengan detail kepada penumpang, terakhir sang piot mengingatkan untuk tetap dalam kursi masih-masing dengan sabuk pengaman terpasang.

Benar saja, tidak berapa lama pasawat yang kami tumpangi bergetar kencang. Berkali-kali. Hati saya mencelos. Laa….Haula….wala Quwata… saya benar-benar takut.

Teringat anak-anak dirumah. Seandainya kejadian terburuk menimpa saya.
Saat itu, hanya tawakal yang bisa dilakukan. Sepenuhnya hidup dan mati saya sepenuhnya diserahkan pada Allah, yakin Allah akan menjaga anak-anak dengan sebaik-baiknya penjagaan. Dimanapun saya berada. Dalam hati saya terus berdoa,
“ Ya…Allah …, ya...Karim…., lindungi kami dalam perjalanan ini. Selamatkan kami, ya …Allah”. Tak henti mulut ini berdzikir menyebut asma Allah.

Goncangan dalam pesawat akhirnya berkurang, semakin lama semakin berkurang, dan akhirnya goncangan itu hilang sama sekali.

“ Alhamdulillah…., terimakasih ya Allah….”. gumam saya. Teman yang duduk disebelah kanan sudah memejamkan matanya, entah tidur benar atau tidak.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam dua puluh menit, kami tiba di bandara Syarif Kasim 2 Pekanbaru. Dengan dijemput oleh seorang staff, kami menuju Duri. Sempat kami makan dulu, karena ‘anaconda’ diperut sudah minta jatah.

Hujan deras mengguyur jalan yang kami lalui. Rambu jalan tidak terlihat sama sekali, kalah oleh air hujan yang tumpah “Bresss”… berkali-kali mobil kehilangan kendali, dan menepi karena jalan tidak terlihat.

“ Pak, pakai lampu jauh aja, biar keliatan jalannya”. Usul saya

“ Kalau pakai lampu jauh, nanti mobil lawan kita silau”. Jawab pak R

“ Lebih bahaya lagi, kalau kita ngga lihat apa-apa pak”. Jawab saya

Setelah beberapa kali menepi, akhirnya pak R menggunakan lampu jauh. Kecepatan mobil saat itu hanya 10 – 20 km/jam. 3,5 jam kami menempuh perjalanan dari Pekanbaru ke Duri, biasanya normal 2 – 2,5 jam. Alhamdulillah…..setelah melewati jalan yang cukup melelahkan kami sampai di Duri (kantor cabang sekaligus mess karyawan).

Badan yang super capek, lengket, mata setengah watt, membuat saya tidak kuat untuk berlama-lama ngobrol dengan bos HRD dan bos Duri. Tidur dengan sukses sampai pagi.


SAMPLING PERTAMA (NYALIP ROMBONGAN)


Badan berasa abis digebukin, alias sakit semua. Terpaksa bangun, karena tugas sudah menanti. Ya… site visit & sampling tanah terkontaminasi dijadwalkan jam 8.00 pagi ini. (Andai saja….masih bisa tidur lagi…, pastinya lebih nyaman)

Jam 7.30 pagi, saya sudah siap-siap menuju lapangan. Tapi…tunggu punya tunggu. Masih bingung siapa yang akan mengantar. Akhirnya Bos WH memanggil saya
“ Mba Lis, yang nganter Yudi aja ya. Soalnya semua sibuk mobilisasi unit ke Project CMXXX”. Kata Bos WH.

“ Iya pak, siapa aja boleh. Asal tau jalan aja.” Jawab saya.

Ternyata Yudi, tidak tau alamat yang akan kami tuju. Waduh…., gimana ini. Akhirnya kami bertanya ke Bos HES (banyak banget boss ya…., di sini memang gudangnya Bos). Rute menuju lokasi kantor USER di gambar, berharap kami tidak nyasar.

Celakanya kendaraan yang kami pakai, bensinnya habis, AC nya tidak dingin malah cenderung hangat (ini mobil pakai Air Conditioning atau Air Heater ya….?). Isyarat buruk, bakal sauna sepanjang perjalanan. Mengingat Duri dan sekitarnya puanas….
Setelah mengisi bensin, kami pun sampai di Gate 3. Dipandu oleh seorang ibu yang mengendarai motor, akhirnya sampai di kantor USER. Tapi sayang….rombongan telah pergi beberapa menit yang lalu. (selisipan jalan….dong)

Saya bingung, harus bagaimana. Telpon Bos BDE eh…., jawabnya agak esmosi. Ya sudahlah…., tanya bos lainnya saja yang temperatur rendah. Ternyata bos BDE marah-marah ke para bos di Duri. Bla…bla…bla…, dengan arogansinya. Sampai –sampai bos CMXXX di Duri naik pitam, bawaannya mau ngarungin orang (kaya rambutan aja, dikarungin).

Bos WH yang super sabar pun akhirnya marah juga, karena bos BDE marah juga ke beliau. Ya….Allah…., gara-gara saya semua orang kena dampaknya. (maafkan saya ….bosss).

Padahal saya Cuma bilang, si USER agak kurang welcome aja saat ditelpon. Saya jadi maju mundur untuk melanjutkan perjalanan ini. Kok efeknya jadi ada yang kena marah ya? Bingung deh.

Bismillah…., akhirnya perjalanan dilanjutkan. Alhamdulillah…., dibantu pihak HES USER yang baik hati akhirnya kami sampai di tempat sampling. Malah mendahului rombongan. (waduh…ketahuan USER deh, kita “ngebut wa saibut” nyalip kanan kiri, termasuk menyalip mobil rombongan)

Sampling berjalan lancar. Lokasi tempat pengambilan sampel tanah yang tercemar minyak bumi, berada di lahan gambut. Area tersebut di aliri parit kecil. Airnya berwarna merah kecoklatan (seperti warna air teh, pH nya asam). Beberapa kali saya kejeblos, karena tanah yang saya pijak ambles. Alhamdulillahnya bobot badan saya tidak terlalu berat, hanya ambles sebatas mata kaki saja. Sampling tanah dilakukan sampai kedalaman 1 meter, setelah 1 meter ternyata sudah bertemu dengan muka air.

Jam 12.15 sampling selesai. Pihak USER mengatakan perjalanan dilanjutkan jam 14.00 nanti, setelah istirahat makan dan sholat. Kami berdua (saya & Yudi), segera berkemas. Untuk melanjutkan perjalanan.


SAMPLING KE DUA (NYASAR.COM)

Sambil melanjutkan perjalanan, saya membuka kamera. Mulai mencari cari gambar yang saya ambil saat sampling tadi. Astaghfirullah……ternyata, hanya dua gambar saja yang tersimpan. Selebihnya entah kemana. Semua gambar yang saya ambil tidak ada dalam kamera tersebut. Padahal sebelumnya gambar tersebut ada.

“ Ya….Allah…., bagaimana ini? Gambarnya kok ga ada?” gumam saya. Bagaimana dengan pembuatan proposal nanti, jika dokumentasi saat site visit dan sampling tidak ada.
Untuk kembali ke tempat sampling pertama sudah tidak mungkin, karena kami sudah lumayan jauh meninggalkan tempat tersebut. Izin memasuki lokasi pun bukan hal yang mudah.

Kami beriringan (konvoi) tiga mobil, paling belakang mobil saya, di depan kami mobil bertuliskan PMT, di depannya lagi mobil USER. Beberapa menit kemudian mobil PMT masuk pombensin, sementara mobil USER tetap melanjutkan perjalanan. Kami tidak mengikuti mobil PMT, tapi tetap mengikuti mobil USER. Pada simpang Dumai mobil tersebut belok kiri, kamipun dengan pe de mengikuti mobil tersebut. Beberapa menit kemudian, kami benar-benar kehilangan panduan. Mobil USER ngebut (mungkin 120km/jam), sementara kami tertinggal jauh di belakang.

Jam 14.00 kami tiba di jalan Abdurahman – Dumai. Karena takut tersesat lebih jauh, saya mencoba menghubungi pihak USER. Ternyata jawabannya kami sudah jauh di depan rombongan. Sedangkan mereka baru saja selesai makan dan sholat, tidak jauh dari lokasi sampling pertama.

“ Mba sudah jauh sekali di depan kami. Tadi tidak istirahat makan ya?” tanya USER

“ Saya tadi mengikuti mobil USER dengan nomor 008 pak, karena mobil itu terus jalan dan tidak istirahat kami ikut. Tapi sayangnya kami terpisah dari rombongan. Baiknya kami ambil jalur ke arah mana pak?” tanya saya

“ Lanjut saja ke arah Bandara Dumai mba, kemudian ke arah Kota. Nanti mba akan melihat tangki- tangki hitam besar. Nah…disana kita akan sampling.” Jawab User.
“ Baik pak, kami akan melanjutkan ke sana.”

“ Sebaiknya mbak istirahat makan dulu, sambil menunggu kami sampai ke sana. Waktunya masih cukup kok.” Ujar USER.

“ Iya pak, kami juga akan istirahat dulu. Terimakasih pak.” Saya akhiri telepon ke pihak USER.

Kami memilih makan siang, tidak jauh dari tempat saya menelpon tadi. Khawatir terpisah nyasar.

Setengah jam kami istirahat makan. Setelah menyiapkan alat sampling, kami melanjutkan perjalanan. Sebelumnya tak lupa kami tanya beberapa pihak tentang arah yang harus kami tempuh. Hasilnya….membuat kami bingung. Dari dua sumber, jawabannya berbeda. Ada yang mengatakan lurus ke depan, ada juga yang mengatakan kami harus berbalik arah. Karena yang kami tuju sudah terlewat. Kami pun bertanya ke orang ketiga, jawabannya sama dengan yang pertama. Voting, dua lawan satu, menang dua. Ya….sudah kami lanjutkan perjalanan ke depan (tidak mengambil arah sebaliknya).

Tunggu punya tunggu, tempat yang kami tuju belum kelihatan juga tanda- tandanya. Saya mulai khawatir lagi. Kayanya nyasar nih. Karena makin lama, arah yang kami tuju ke arah pusat kota. Kembali menghubungi USER, merupakan jalan keluar yang aman.

“ Pak, maaf. Ini kami di simpang, harus ambil ke arah mana ya? Ke kiri ke arah perusahaan Patradok, ke kanan ke bukit xxx, jika terus ke pusat kota dumai.” Tanya saya pada pihak USER sambil sesekali melihat tanda atau rambu di jalan.

“ Mba sudah kejauhan mba, tidak perlu masuk ke pusat kota. Tapi sebaiknya ambil jalan kembali. Ke arah yang tadi. Cari arah ke bandara Dumai. Nanti akan terlihat tank farm.” Jawab suara disana.

“ Yud, kita balik lagi. Dah kelewat jauh nih katanya. Atau ngomong sendiri deh sama USER.” Sambil menyerahkan HP kepada yudi.

Saat yudi berbicara dengan USER ditelepon, saya mencoba bertanya dengan orang di jalan. Kali ini pengendara motor di lampu merah.

“pak arah ke bandara lewat mana ya?” tanya saya pada pengendara motor
“ Di depan ini langsung belok kiri, itu jalan pintas mba. Lebih dekat ke bandara Dumai. Kalau mau terus bisa juga, tapi jauh” Jawabnya

Lampu merah sudah berganti hijau, cepat-cepat si pengendara motor itu melaju. Tinggal kami yang masih kebingungan. Kenapa dari tadi para penunjuk jalan tidak ada yang kompak. Beberapa orang yang kami tanya, jawabannya semua beda arah.

“ Kita coba aja yud, kali aja bisa ketemu lagi rombongan.” Ajak saya
Kami mengikuti arah yang tadi di sarankan oleh pengendara motor di lampu merah. Belok kiri terus….., tapi…perasaan saya ada yang aneh. Bukan menuju tank farm tapi malah masuk perumahan pertamina. Bagaimana ini, kok makin nyasar.

Kami berbalik arah, ke tempat simpang tiga saat kami ambil belok kiri. Kembali kearah sebelumnya. Sudah jam 15.30 tapi masih berputar-putar tak tentu arah. Sementara panas sangat menyengat. Mobil pun tanpa AC. Terpanggang dalam mobil, tak ada pilihan lain. Mencoba menerima kondisi dengan ikhlas.

Saya mulai berfikir, ada apa dibalik semua kejadian ini. Mungkin Allah sedang menegur saya dengan manis. Belum faham juga apa hikmah dibalik tersesatnya kami. Apa Allah tidak ridho pada apa yang kami lakukan, atau….. ini akumulasi dari dosa yang dilakukan perusahaan. Ah…saya tidak mau menduga-duga. Mungkin juga karena kesalahan yang tidak sengaja saya lakukan. Sepanjang perjalanan saya hopeless, tidak tau harus bagimana lagi. Tidak tau harus menempuh jalan yang mana agar kami sampai ke tujuan.

Dengan sisa semangat yang semakin menipis, kami tetap in contact dengan Bos WH dan CMXXX, bahkan berkali-kali juga saya hubungi HP pihak USER. Tapi tidak dijawab. Jam 16.30 sore, kami keluar di jalur simpang Bangko. Masya Allah……, kami ke arah jalan pulang ke Duri, bukan arah Dumai.

Ya….Allah…., sudah lelah badan ini. Kepanasan, kehausan, belum lagi letih seharian duduk dengan setengah melompat-lompat karena mobil di laju dengan kecepatan yang tinggi. Berharap dapat menyusul rombongan.

Akhirnya saya putuskan menelpon bos CMxxxx.
“ Pak, gimana nih. Kita malah sampe simpang bangko. Dah hopeless, mau lanjut ngga bakalan terkejar. Mereka selesai sampling jam 5 sore.” Saya mencoba menjelaskan. Saat kami tiba di simpang bangko dan menepi sesaat untuk ambil keputusan yang tepat.

“ Astagfirullah…, kirain tadi sudah sampai ditempat, dari kalian telepon jaraknya Cuma 200 meter saja. Kok malah sudah sampai di simpang bangko. Itu sudah terlewat jauh.” Bos CMXXX menjelaskan.

“ Tapi kita memang dari tadi ngga melihat tangki-tangki besar itu. Mungkin arahnya beda. Atau kami yang malah nyasar terus.” Jawab saya.

“ Ya sudah, lebih baik kalian pulang saja. Percuma, tidak akan cukup waktu untuk ke tempat sampling. Nanti kita bicarakan dengan pihak USER bagaimana baiknya. Semoga mereka mau izinkan kita sampling lagi.” Saran Bos CMXXX, cukup menenangkan hati.
Akhiranya kami kembali pulang ke Duri, setelah sebelumnya mencoba menghubingipihak USER kembali. Karena tidak ada jawaban kamipunmemutuskan untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang saya berfikir, ada apa dibalik semua ini. Semoga hanya kebetulan saja. Saya istighfar….sepanjang jalan pulang. Mohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang saya buat. Apapun itu yang menyebabkan nyasar sepanjang hari ini.

PS: rekor nyasar terlama yang pernah saya alami (dari jam 12.15 siang sampai jam 16.30 sore), dan tidak sampai tujuan pula.

Allah masih sayang

Duri Riau ; Mei 2009

Kali ini perjalanan tugas mengirim saya ke kota penghasil minyak, ya…. Kota kecil Duri (Riau). Sebagai Analis lab. saya kebagian jatah trial skala laboratorium pada salah satu tahapan project, padahal beberapa waktu sebelumnya turut mensupport team untuk presentasi pada pihak Cevron.

Dengan membawa peralatan lenong (alat Lab lengkap dengan pereaksi), saya berangkat bersama rekan kerja (sesama analis, adik kelas pula di almamater), KKn banget ya….
Bawaan kami lumayan buanyak dan bikin repot, karena semua masuk special handling, (takut rusak euy….) ada Spektrofotometer, ada Infra Red, belum lagi glassware, wuih….seru. 2 troli masih numpukh. Alhamdulillah, semua bawaan bisa masuk bagasi, tentu saja dengan extra hati-hati, dan rajin mewanti-wanti pihak penerbangan.

Karena harga barang tersebut sangatlah mahal. Kalau saja hilang atau rusak, gaji kami berdua selama setahun belum cukup untuk membeli alat itu, tus….tus…tus….juta.
Ada kejadian unik, saat kami membawa syringe injector untuk Infra Red, sempat ditanya oleh petugas, kami bilang saja sebagai pelengkat alat lab yang kami bawa.

Hampir saja tidak bisa kami bawa, (alhamdulillah….lagi, akhirnya bisa juga masuk). Mungkin melihat tampang saya yang inocent ya…(hihihi).
Trial berjalan lancar (rahasia UMUM), keep the secret ya…
Setelah selesai trial, kamipun berkemas pulang, dengan tetap membawa peralatan lenong. Karena Penerbangan jam 5 sore, dengan berangkat sekitar jam 1 siang, jaga-jaga kalau di pekanbaru macet. Waktu tempuh dari Duri ke pekanbaru sekitar 2,5 jam. Cukup membuat pinggang saya sakit, jalannya agak grenjulan (tidak rata), dan berkelok pula. Belum lagi kalau pas berpapasan dengan truk balak (tronton atau truk besar yang membawa kayu gelondongan), dengan muatan super penuh, dan dirantai seadanya. Saya seringkali parno, ngeri ketiban balak kayu tersebut.

Disatu saat posisi mobil kami tepat berada dibelakang truk yang mengangkut pipa baja atau tubing (eh…ini nulisnya bener ga ya?). pipa tersebut diikat dengan rantai. Yang saya heran pada tumpukan pipa tersebut tidak ada penahannya, maksudnya pada ujung pipa tidak di ikat, atau ditahan oleh rantai atau besi, sehingga kemungkinan merosot sangat besar. Dan kami bisa jadi saja jadi korban kalau pipa itu merosot. (wuih….ngeri). feeling saya tidak enak.

“ pak, tolong jauh-jauh dari truk di depan, saya takut pipanya merosot”. Ujar saya ke pak Rusdi

“Iya mba, saya juga ngeri,” jawab beliau.

“mending disalip aja pak, atau jauh dibelakang sekalian. Biar aman.” Tambah saya, sambil dalam hati terus berdoa semoga pipa tersebut aman dan nyaman dalam posisinya, dan tidak ada niat untuk merosot menyapa kami (menyapa???? Yang ada bisa menghancurkan mobil kami).

Saat ada kesempatan menyalip, akhirnya mobil yang kami tumpangi pun bisa mendahului. Alhamdulillah….seru kami bersamaan. Akhirnya posisi mobil berada didepan dan berjarak satu mobil dengan truk pengangkut pipa tadi.

Selang beberapa saat kemudian, kami tiba pada tanjakan sekaligus belokan. Mobil kamipun berhenti setelah melewati tanjakan tersebut. Tidak tau ada apa, di depan kami macet. Mungkin ada truk yang terperosok atau apa di depan sana. Saat itulah saya menengok ke belakang, ingin melihat antrian mobil di belakang kami. Pas saat saya lihat truk pembawa pipa, ngerem diposisi tanjakan tersebut. Tumpukan pipa satu-satu merosot ke bawah dengan suara yang cukup keras.

Astaghfirullah……kami bertiga terkejut. Pipa pipa besar tersebut meluncur dengan cepat, memenuhi jalan dibelakangnya. Sesaat kami amati, tidak ada kendaraan di belakang truk itu.

Subhanallah….., Walhamdulillah…., Wallahuakbar……, hati saya mencelos. Mungkin kalau di EKG, jantung saya mendadak berhenti melihat kejadian itu. Bagaimana jika saat itu kami bertiga berada dalam posisi tepat dibelakang truk pembawa pipa tersebut.

Wallahu’alam…., mungkin kami sudah almarhum semua. Tapi Allah berkehendak lain. Allah masih sayang kami, Allah masih berikan kami kesempatan, untuk hidup sampai sekarang. Semoga kesempatan yang Allah berikan ini menjadikan kami manusia yang pandai bersyukur dan lebih berhati-hati dalam setiap kondisi.

Ya….Allah…., Terimakasih, telah Engkau berikan kami kesempatan lolos dari kejadian tragis tersebut.

Al Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit

Imam Abu Hanifah adalah salah satu dari Imam Madzhab. Terlepas dari berbagai pendapat yang simpang siur, karena adanya kafanatikan kaum terhadap salah satu madzhab. Imam abu Hanifah adalah seorang Imam yang pendapat dan pemikirannya diperhitungkan dalam dunia Islam.

Dari Yahya bin Mu’in, dia berkata,” aku pernah mendengar yahya Al Qathan berkata, “kami berbincang-bincang dengan Imam Abu Hanifah dan kami banyak mendengar darinya. Jika aku memandangnya, aku tahu bahwa wajahnya itu adalah orang yang takut kepada Allah SWT,”

Al khatib pernah meriwayatkan sanjungan Ibnu Al Mubarak kepada Imam Abu Hanifah, dalam bait syairnya:

Al khatib pernah meriwayatkan sanjungan Ibnu Al Mubarak kepada Imam Abu Hanifah, dalam bait syairnya:

Aku melihat Abu Hanifah makin hari semakin mantap kecerdasan kebaikannya.
Dia selalu mengatakan kebenaran dan menyeleksinya,
disaat orang Zhalim berbicara dengan kezhalimannya.

Kecerdasannya tidak bisa disamakan dengan yang lain,
lalu siapa orang yang bisa mendatangkan orang sepertinya?
Janganlah kami kehilangan Hammad (puteranya Abu Hanifah) saat itu adalah musibah besar bagi kami.

Dia adalah orang yang intens membantah hujatan para musuh kita (Islam),
kemudian dia memperlihatkan keunggulan dan tingginya ilmu pengetahuannya.
Aku melihat Abu Hanifah ketika ia didatangi dan diminta mengajar,
ternyata ilmunya seluas lautanyang menghampar.

Jika ada permasalahan yang ditangani para Ulama, dia bersabar (menyelesaikannya)


1. Nama, kelahiran dan sifat-sifatnya

An-Nu’man bin Zauthi At-Taimi Al-Kufi (kepala suku dari Bani Tamim bin Tsa’labah)
Hanifah dari kata : orang yang suka membawa tinta (bahasa Irak)

Kelahirannya; pada tahun 80 Hijriyah di Kufah, pada pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Sifatnya ; Berperawakan sedang, tampan, paling bagus logat bicaranya, paling bagus suaranya saat bersenandung, berwibawa tidak banyak bicara kecuali menjawab pertanyaan yang dilontarkan, tidak mau mencampuri persoalan yang bukan urusannya.

2. Sanjungan para Ulama terhadapnya

Al Fudhail bin Iyadh berkata,” Abu Hanifah adalah seorang ahli fikih terkenal, selain itu ia juga terkenal dengan kewara’annya, banyak harta, sangat memuliakan orang disekitarnya, sabar menuntut ilmu siang malam, banyak bangun malam, tidak berbicara kecuali harus menjelaskan kepada masyarakat tentang halal dan haram suatu perkara. Dia sangat piawai dalam menjelaskan kebenaran hokum dan tidak suka dengan harta para penguasa.

Ibnu Ash-Shobah menambahkan,” jika ada masalah yang ditanyakan kepadanya, dia berusaha menjawabnya dengan hadist shahih dan menggunakan sebagai dalil walaupun berasal dari sahabat dan para tabi’in. jika tidak ada maka iya menggunakan Qiyas, dan dia adalah orangyang piawai dalam menggunakan qiyas.”

Dari Abu Wahb Muhammad bin MAzaahim, dia berkata,” aku pernah mendengar Abdulah bin Al-mubarak berkata,” aku telah melihat orang yang paling ahli dalam ibadahnya, aku telah melihat orang yang paling wira’I, aku telah melihat orang yang paling banyak ilmunya, dan aku telah melihat orang yangpaling ahli dalam bidang fikih. Adapun orang yang paling banyak ibdahnya adalah Abdul Aziz bin Ruwwad, orang yang paling wira’I adalah Fudhail bin Iyadh, orang yang paling banyak ilmunya adalah sufyan Atsauri, sedangkan orang yang paling ahli dalam bidang fikih adalah Iman Abu Hanifah.”

3. Ibadahnya

Dari Asad bin Amr, dia berkata,” Sesungguhnya Imam Abu Hanifah melakukan sholat isya dan subuh dengan satu wudhu selama 40 tahun.”

Dari Al-Mutsanna bin Raja’ dia berkata,” Abu Hanifah telah benar-benar bersumpah kepada Allah untuk bershodaqoh dengan uang dinar, yaitu jika dia membelanjakan uangnya untuk kepentingan keluarganya, maka dia akan memberikan shodaqoh dengan jumlah uang yang sama sesuai dengan yang dibelanjakan untuk keluarganya.”

Mendapat julukan al watid (kuat), karenaa banyaknya sholat yang dilakukan.

Dari Al Qasim bin Mu’in berkata,” sesungguhnya Imam Abu hanifah selalu bangun malam dan sering membaca ayat (QS Al Qamar:46)
Yang artinya: “ sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”
Kemudian dia menagis dan merasa rendah diri serat takut kepada Allah SWT hingga menjelang fajar.”

Tidak pernah tidur menggunakan bantal, hanya tidur pada waktu dzuhur menjelang asar pada musim panas dan awal malam pada musim dingin.

4. Kewara’annya

Orang pada masanya akan berkata bahwa orang yang paling wara adalah Iman Abu hanifah.
Ada satu kisah “ pada saat Abu Hanifa membarikan hadiah pada Hafsh bin Abirrahman, dia menjelaskan bahwa baju yang dia berikan ada cacatnya, sehingga jika dia harus menjaulnya maka cacatnya harus diberi tahu. Kemuadin teman baiknya ini menjual baju tersebut dan lupa memberitahu pembelinya tentang cacat bajunya. Kemudian abu hanifah mensodaqohkan sejumlah uang seharga yang sama dengan baju yang dijual sahabatnya itu.

5. Toleransi & kemuliannya

Abu Hanifah sangat menghormati teman-temannya, dan paling bisa memuliakan lawan bicaranya.

6. Komitmen untuk selalu mengikuti sunnah

Pada dasarnya Imam Abu Hanifah selalu menggunakan Al Qur’an, jika tidak ada maka dengan sunnah, jika tidak ada maka dengan pendapat para shahabat, tapi jika pendapatnya berselisih, maka diambil yang paling emndekati Al Qur’an atau Sunnah. Tetapi jika tidka menemukannya maka ia melakukan Ijtihad dan tidak mengambil dari para tabiin.


7. Cobaan yang menimpa


Dari Ubaidillah bin Amr, dia berkata,” sesungguhnya Ibnu Hubairah telah mencambuk Abu Hanifah sebanyak 110 cambukan dengan cemeti agar dia meu memegang jabatan sebagai hakim, akan tetapi dia lebih memilih untuk menolaknya. Ibnu Hubairah adalah salah seorang pejabat pemerintah khalifah Marwan, dia situgaskan di Irak pada masa bani Ummayah.”

Suatu ketika dia dibebaskan dan dia berkata” sesungguhnya kesedihan orang tuaku lebih membuatku bersedih daripada cambukan yang diderakan kepadaku.”

8. Wafatnya

Dalam kitab “Al ibar” Adz-Dzahabi berkata,” diriwayatkan bahwa khalifah Al mansyur member minuman beracun kepada Imam Abu Hanifah dan diapun meninggal sebagai syahid. Semoga Allah member rahmat padanya.”
Beliau meninggal dunia pada tahun 150 Hijariyah dalam usia 70 tahun, dia meninggalkan seorang putera Hammad.

Sumber: 60 Biografi Ulama salaf karya Syaikh Ahmad farid (hal 166-182)

BELAJAR MOTOR

Pagar tetangga

Penasaran melihat orang yang naik motor dengan nyantainya, berseliweran di depan rumah, di jalan, bahkan banyak pula anak-anak usia sekolah dasar mahir mengendarai motor. Sayangnya saya belum cukup berani untuk belajar naik motor. Sekedar naik sih sering, mbonceng sama tukang ojek. Tapi untuk mengendarai sendiri, jujur belum pernah. (hari gini…, masih ada orang yang ga bisa naik motor) ada kok, ya…saya.

Mulai lirik-lirik motor di kantor, untuk sekedar belajar menstarter motor dalam posisi standar terpasang, mencoba nge gas (agak berisik), kemudian mematikan lagi motornya. (norak banget ya). Sampai satu saat, kakak ipar saya membeli motor “bodong” yang tampangnya saja sudah tidak jelas, motor merek apa, keluaran tahun berapa, sayap motornya sudah tidak ada, begitu pula tutup mesin di bawah stang, kabelnya semrawut. Cocoknya masuk museum ini motor. Berkat dikomporin kakak dan orang sekitar, sayapun memberanikan diri untuk belajar motor.

Saya mencoba memasukkan gigi, dan nge gas pelan-pelan. (memang motornya sudah tidak bisa ngebut). Saat akan berhenti sayapun gugup, rem tangan kok ga pakem, alias masih saja si motor jalan terus. Dicoba rem kaki, juga sama kondisinya. Duh…. Mulai panic nih. Terpaksa saya arahkan motor ke pagar tembok milik tetangga. Brukkh… wadaw….(kaki tergencet, antara pagar dan motor) sakitnya ampun-ampun. Tulang kering membiru, memar. Belum kapok juga beberapa kali saya ulangi. Jalan belok, dan berhenti dengan sasaran pagar rumah orang yang lain. Pfffffh… maaf ya pak.. bu… numpang ngerem, Alhamdulillah pagarnya tetap berdiri kokoh, tinggallah kaki saya yang bonyok-bonyok.

--------

Ternyata berat

Merasa diri sudah pernah latihan motor di rumah, kali ini saya agak percaya diri untuk pinjem motor kantor. Mumpung mobil di parkiran kantor lagi sepi, sayapun memberanikan diri menyalakan motor (padahal pakai baju gamis) dan nge-gas perlahan. Sekedar info saja, saya tidak pernah berani dalam posisi gigi satu, karena sering lompat-lompat trus gubraks….(jatuh deh). Langsung gigi dua, saya mencoba mengitari parkiran yang cukup luas.

Tidak puas di parkiran, lanjut ke luar agak menjauh dari kantor. Jalan setapak yang cukup sepi. Sampai di ujung jalan mencoba membelokkan motor. Tapi tidak berhasil. Motorpun saya matikan dan mencoba membelokkan motor dalam posisi mati. Ternyata Masya Allah…, motor itu ternyata bueraaaaat…, alih- alih membelokkan motor, saya jatuh terjerembab bersama si motor dengan posisi, kedua tangan di atas tanah becek, lutut kepentok body motor. Duh…., semoga ga ada yang lihat tadi. Baju belepotan kena tanah, lutut berasa senut-senut, kedua telapan tanganpun tak luput dari beceknya tanah. Motornya “fine-fine” aja tuh. Habis jatuh, lutut masih gemetaran, tangan masih belepotan tanah. Mau angkat motor, takut jatuh lagi. Alhamdulillah datanglah pertolongan, ada tukang jualan pikulan lewat.

“ Pak, maaf pak, minta tolong dong pak, tolong berdiriin motornya, saya ga kuat.” Pinta saya. Bapak itu melihat saya melas, pastinya liat baju dan tangan saya yang masih belepotan tanah.

“ Baru belajar motor ya mba?” Tanya si bapak, sambil menaruh pikulan daganggnya, kemudian mencoba mengangkat dan menegakkan posisi motor. Setelah motor itu berdiri, bapak itu mendorong motor mendekati saya berdiri

“Hati-hati mba, jangan sampai jatuh lagi. Itu bajunya bahaya, takut keserimpet ntar.” nasihatnya.

“Iya pak, makasih banyak ya pak…” jawab saya. Dalam hati bersyukur, pertolongan Allah datang di saat yang tepat.
-------------

Katulampa “We are Coming”

Setelah kejadian jatuh dari motor, apakah saya kapok??? Ternyata tidak. Kali ini saya tidak tanggung-tanggung belajar motornya. Berbekal motor baru (baru nyicil pula), saya membonceng calon adik ipar (Ratih) untuk pergi ke SKI Katulampa (toko tas ternama di bogor). Padahal seumur-umur belum pernah naik motor yang jaraknya lebih dari 100 meter. Ini bisa dibilang berani bin nekat. Ratih juga tenang-tenang aja tuh, belum tau kalau saya masih dalam taraf belajar motor.

Kami berangkat dari rumah kakak (pamikul), jam 8 pagi. Hari minggu biasanya jalan masih sepi, jadi cukup aman untuk pemula seperti saya. Konvoi dua motor, saya membonceng Ratih, sementara mba Susi dibonceng suaminya (Nadin ponakan juga ikut). Bissmilahi majreha….wa mursaha ina robbi la gofururrohiim.., semoga selamat pulang pergi. Dalam hati saya hamper ciut, takut kenapa napa di jalan. Apalagi mbonceng anak orang. Alhamdulillah jalan benar-benar sepi, lebih banyak yang berjalan kai menghirup udara yang masih segar. Maklum Bogor masih adem ayem tentrem kalau pagi begini.

Sengaja kami mengambil jalan alternative, bukan jalan umum yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, tapi justru jalan yang cukup lebar sepi pemakai. Dari pamikul, kami belok kiri kea rah Cimahpar, di perempatan kami lurus ke arah Kampus Universitas Pakuan, jalannya memang sepi dari angkot. Jalan mulus dan bagus biasanya jadi ajang kebut-kebutan, makanya jalan yang saya lewati banyak poldur (polisi tidur), biar ga pada benjut kalo ngebut. Saya yang masih pemula urusan motor, setiap melewati poldur, ga bisa ngerem. Tapi bablas… saja. Tinggal Ratih yang teriak-teriak dan latah “eh kodok-kodok” , tiap poldur jadi berasa ketemu sama banyak kodok (maaf ya dek…). Sekalinya saya coba ngerem, nyaris nyusruk karena motor ga mau digas setelah sempat direm, tapi justru oleng kekanan dan kekiri.

Mba Susi, Rus dan Nadin jadi terhibur ada lawak dadakan di tengah jalan. Ya…saya ini. Mereka ketawa ketiwi, tega. Melihat adiknya belajar motor, dengan membawa korban pula (Ratih dengan “kodoknya”). Jarak yang sebetulnya dekat, jadi terasa jauuuuh…sekali. Karena tiap ketemu perempatan saya sutressa bukan main. Sementara jalan mulai ramai dengan kendaraan. Rus sering mendahulukan saya, agar bisa lewat lebih dulu. Setelahnya baru dia yang lewat (baiknya…, makasih ya pak).

Ah…akhirnya sampai di Katulampa, tapi bahaya nih, jalan masuknya turunan yang cukup curam, bisa-bisa saya nyungsep zep. Nyaris nabrak mobil saat saya mencoba menuruni jalan itu. Untung saja pengemudi mobilnya orang baik. (maaf ya Om…). Alhamdulillah…, sampai di tujuan dengan selamat sentosa.

Saat yang menakutkan itu tiba, pulang agak siang, kendaraan mulai padat merayap. Saya yang agak paranoid, harus mengendarai motor disela-sela mobil. Duh…, bisa ga ya??? (agak pesimis). Kadang mata saya merem sangking takutnya, takut nyerempet mobil orang. Kok aneh ya…malah merem. Allah masih sayang sama saya, saat harus lewat di sela-sela mobil dengan mata kadang merem melek karena takut, dan selamat…., tidak menggores sedikitpun mobil di samping kanan kiri saya. Tinggal pasukan “kodok” diboncengan saya makin banyak.

Tiba di satu tikungan dimana saya harus menyebrang, sementara diseberang sana ada polisi berdiri. Waduh…. deredeg, jantung saya seketika. Tidak punya sim pula, bagaimana kalo tiba-tiba saya malah nabrak. Akhirnya Rus jalan lebih dulu, berhenti tidak jauh dari pak Polisi, entah apa yang dibilang Rus ke Polisi itu, tiba-tiba saja polisi itu menyetop mobil akan menyeberang jalan, memberi saya ruang untuk bisa jalan lebih dulu. Waduh…, baik sekali pak polisi itu.

“Makasih ya pak…,” saya mengucapkan sambil setengah teriak. Pak polisi itu Cuma mesem. Moga amal ibadah pak polisi diterima (loh…)

Berkali-kali saya tidak berhasil ngerem, akhirnya saya complain ke Rus, untuk disetel remnya, supaya saya bisa ngerem. Setelah istirahat sebentar, sambil setel rem. Nadin terus meledek saya.

“Amah…, amah lucu amat sih naik motornya. Kaya mau nabrak gitu.” Nadin ngeledek sambil sesekali cekikikan.

“Yah…Nadin, namanya juga baru belajar.” Jawab saya sambil melihat ekspresi Ratih, yang matanya mulai melotot.

“Mba, jadi baru belajar motor?” Tanya Ratih bingung.

“ Iya, ini pertama kali naik motor agak jauh. “ jawab saya sekenanya, diiringi suara tertawa Nadin dan Mba Susi.

“Wah…tau gitu, ratih ga mau dibonceng.” Jawabnya kecut.

“Lah… dah tanggung Tih, tadi kan buktinya selamat sampai tujuan. Walau banyak kodok dimana-mana.” Jawab saya sambil cengengesan.

Setelah rem disetel ulang, saya mencoba dan berhasil ngerem tanpa nyusruk. Semoga kodoknya Ratih berkurang.

Memasuki kawasan Bantarjati yang ramai angkot, pas di perempatan jalan, arah yang harus saya ambil menyebrang sekaligus belok kanan, dengan posisi menanjak pula. Titik yang mengkhawatirkan bagi saya. Bismillah…., berhasil menyebrang jalan, tiba saat tanjakan motor yang saya kendarai tidak mau jalan juga. Tapi justru oleng ke kanan dan akhirnya membentur trotoar pembatas di tengah jalan. Motorpun nyaris jatuh, begitu pula dengan penumpangnya. Ratih dengan sigap segera menginjak rem.

Sementara saya masih bingung mengendalikan motor supaya tidak rebah ke aspal. Jadilah saya dan ratih tontonan gratis. Banyak yang mesem-mesem kasian, tapi ada juga yang ketawa ngakak (teganya). Kami berduapun akhirnya ikutan juga ketawa. Baru tersadar bodohnya saya, harusnya pas tanjakan pindah gigi satu (maklum, phobia gigi satu).

Rumah sudah dekat, tapi Ratih memilih jalan kaki sampai ke rumah (kapoknya telat). Sementara saya lagi-lagi belum kapok juga, habis nyusruk naik lagi deh ke motor untuk pulang ke rumah dengan selamat.

Selang sebulan, Ratih saya ajak lagi ke Katulampa padahal becanda, tapi bisa ditebak jawabannya. Dia bilang begini, “Ga mau ah mba, kalo harus dibonceng sama mba,” penolakan yang sangat jujur (Teganya)

--------

Musuh itu bernama “REM”

Setelah kejadian pasukan kodok, motor baru (yang baru nyicil pula) akhirnya dihibahkan ke adik. Alasannya karena dia lebih butuh dibanding saya. Lagipula sayang alias mubazir, punya motor ga pernah dipakai. Kalaupun saat weekend, ada motor suami. Kan ga mungkin kami naik motor sendiri-sendiri, nanti dikira tukang ojek.

Pindah ke Cikarang, menjadikan saya harus bisa naik kendaraan sendiri misalnya motor atau mobil. Karena kondisi rumah yang jauh dari peradaban (alias jauh dari mana-mana), tidak ada angkutan umum yang masuk keperumahan. Kalaupun ada jarrraaaang sekali. Angkutan utama adalah ojek (minus rem), karena tiap lewat poldur ga pernah ngerem tuh si tukang ojek.

Berhubung dirumah ada motor jaman baheula, yang lumayan masih bisa jalan. Maka saya pun memberanikan diri untuk naik motor. Saat itu saya sedang sakit gejala typus (ini sakit-sakit nekat). Reflek agak berkurang, jalan juga masih sempoyongan. Berkali-kali suami coba mengingatkan untuk tidak naik motor dulu. Sayanya bandel. Tetep kekeuh surekeuh (ngotot), ingin naik motor. Iffa dalam gendongan ayahnnya, sementara saya naik motor sendiri.

Saatnya tanjakan. Motor agak oleng kekanan dan ke kiri. Karena takut nyusruk, saya coba ngerem. Tapi kok ga berhenti juga motornya, saya injak sampai pol, tidak bergeming. Jurus terakhir, rem tangan. Tapi ternyata rem tangannya dol. Ga ngaruh. Motor semakin oleng, sementara jalan menanjak. Akhirnya motor jatuh, bersama penumpangnya. Kepala membentur aspal, kaki terjepit diantara body motor. Rasanya kejadian begitu cepat. Saya ga ngeh bagaimana kok sampai bisa jatuh. Tersadar dengan posisi tubuh miring kekiri, dengan motor yang masih hidup.

Suami setengah berlari menghampiri saya, diturunkannya Iffa dari gendongan. Kemudian segera mematikan motor.

“ Astaghfirullah…, Ibu…kok bisa jatuh.” tanyanya sambil membimbing saya untuk berdiri.

“Ga tau, mau nge rem malah jatuh, rem tangan juga ga bisa.” Jawab saya sambil menahan sakit

“ Maaf, ayah lupa kasih tau kalau rem tangannya memang rusak, tapi rem kaki masih bisa kok.” Jelasnya lagi. Sambil mencoba menghidupkan motor, dan mencoba rem kaki.
“Ini bisa kok bu, memang harus dalam nginjaknya. Ya sudah, jangan naik motor lagi ya. pokoknya ibu ga boleh naik motor. Ayah trauma liat ibu jatuh barusan.” Pintanya dengan wajah melas, liat saya yang masih meringis nahan sakit.

Sambil mengendong Iffa, kamipun pulang. Yang jelas, saya dilarang keras sama suami untuk naik motor. Saya heran, kok malah suami yang trauma liat saya jatuh dari motor, sementara saya belum juga kapok (walau kepala benjol, pundak memar, kaki dan tangan lecet-lecet).

Namanya belajar, wajar toh jatuh dan jatuh lagi. Anak kecil saja saat belajar jalan, berulang kali harus jatuh sebelum dia benar-benar bisa berjalan tegak di atas kakinya. Cukuplah ambil hikmah dari setiap kejadian, bahwa belajar memang ada saatnya terjatuh, bangun, kemudian jatuh lagi. Kita hanya bisa berjaga-jaga agar saat terjatuh, tidak parah efeknya. Atau bahkan bisa diminimize dengan memperhatikan kendaraan yang akan kita bawa, sudah safety atau belum. Jika belum yakin, amannya jangan, daripada fatal akibatnya. Tersadar saya akan musuh utama saat naik motor, musuh itu bernama REM. ^_^

Ribut mulut dengan pemabuk

Berbagai kejadian aneh bin ajaib sering dialami, akibat sikap tomboy saya. Kali ini agak parah, hampir berkelahi diangkot, gara – gara saya dikira “cowok”. Saat itu saya mau ke rumah kakak di daerah ciracas, dari condet kami (saya & mba susi) naik angkot 07 kemudian nyambung naik angkot 03 jurusan cililitan kelapa dua, di angkot tersebut saya duduk dipojok bagian kanan (yang bangku pendek untuk 4 orang penumpang), sementara kaka saya (mba susi) duduk di bagian kiri (yang isinya untuk 6 orang penumpang) di depan saya duduk dua orang lelaki (mungkin umurnya di atas saya dua atau 3 tahun), di sebelahnya ada jatah untuk satu orang lagi, kemudian tempat duduk mba susi.

Awalnya saya sudah menaruh curiga terhadap penumpang di depan saya.Wajahnya lusuh, matanya merah dan agak berbau alkohol (satu orang) yang satu biasa saja, tidak mencurigakan. Angkot kali ini berhenti untuk mengmbil penumpang. Dua orang naik (ibu – ibu pula), satu orang duduk di bangku tambahan, satu lagi duduk di bangku 6 (deretan mba susi), tapi karena “penumpang mata merah” di depan saya tidak mau bergeser, alias maunya deket – deket ke mba susi. Akhirnya saya angkat bicara.

“ Tolong geseran dikit dong, kasian ibu itu duduknya susah” saya bicara dengan nada yang biasa, tapi malah dijawab nyolot

“ Mau apa lu, mau ribut?” jawabnya

“ Saya ga mau ribut, Cuma minta tolong duduknya minggir sedikit, ibu itu mau duduk juga” jawab saya yang agak naik intonasinya

“ Jadi mau lu apa?, gua ga mau geser,mau ribut lu?” dengan nada yang makin meninggi, dan posisi tangan mengepal, seperti mau meninju saya.

“ Saya ga mau ribut, Lu aja yang ga bisa mikir. Kasian tuh ibu-ibu mau duduk susah gara-gara elu ga mau geser dikit, emang ini mobil Lu” jawab saya yang agak sewot juga.

“ Eh udah….udah…., ga tau malu. Beraninya sama perempuan” akhirnya mba susi ikut bicara. Mungkin takut juga kalau adiknya ini di apa-apain sama cowok bermata merah itu.

“ Eh…, elu cewek, bukannya cowok?” dia balik bertanya pada saya

“Emang kenapa kalo cewek” saya jawab dengan ketus

“ Gue kirain cowok” jawabnya pelan, sambil menundukkan kepalanya. Malu mungkin.

Dalam hati, saya bersyukur, “Alhamdulillah”……, kalo tidak ditengahi oleh mba susi, mungkin sudah adu jotos di angkot. Tidak lama kemudian mereka berdua turun, sambil tak lupa minta maaf pada kami.

“Lis, besok – besok jangan begitu lagi ya, tadi hampir aja berantem sama orang”. Mba susi mengingatkan saya.

Saya Cuma bisa nyengir, tapi dalam hati berjanji, besok harus lebih hati – hati lagi.

Bukan “mas-mas”

Pas tahun 96, saat penerimaan mahasiswa baru, saya yg senior ikutan acara ospek di kampus. Bertugas sebagai PJS (Petugas Jaga Harian) dari sebuah kelompok mahasiswa baru. Saat itu ada seorang cama (calon mahasiswa) protes kepada senior yang lain, bahwa kelompoknya punya pjs tidak ada perempuannya. Kebetulan saya yang pegang kelompoknya. Waduh….saya dianggap laki-laki rupanya? Separah itukah tomboynya saya? senior yang lain jadi ramai, ada tertawa, ada juga yang sedih (khususnya teman – teman saya yg sudah berjilbab rapi, dan para ikhwan beneran tentunya).

“Tuh …kan, salah liat deh adik kita, besok – besok tomboynya kurangin deh lis” begitu salah satu ucapan yang sempat saya ingat.

Saat itu saya hanya menanggapi sengan tidak serius. Tapi lama kelamaan sempat jadi fikiran juga. Karena saya pernah baca (bahkan berkali – kali) tentang laknat Allah pada laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Na udzubilah…., jangan sampai saya dilaknat oleh Allah, karena saya berpenampilan seperti laki – laki.

Setelah saya ingat – ingat memang saya berpenampilan seperti laki – laki, sepotong rok pun saya tidak punya (saat sekolah hanya rok seragam saja yang saya punya), rambut hampir selalu cepak, pakaian sehari – hari jeans belel, kaus panjang, kemeja panjang, atau pakai sweater (karena dulu bogor lumayan dingin dan sering hujan), sepatu keds, make up…, waduh boro – boro deh. Pake bedak sebatas bedak bayi, karena kulit saya agak sensitif (ga bisa pake bedak macem –macem), dan satu lagi yang ga pernah ketinggalan, saya selalu pakai topi. Entah kenapa, saya merasa nyaman dengan topi.

Selain bisa mengurangi wajah yang terpapar matahari, saya juga bisa bersembunyi untuk tidur saat dikendaraan umum. Kalao sudah begitu, tak jarang orang salah panggil ke saya. seperti saat saya pulang ke jakarta bersama ita teman saya sekelas, saya dipanggil mas sama pedagang asongan. Pernah juga saat ke mall dengan yuli (teman sekelas saya juga), kami bertemu dengan senior, eh….dikiranya kami lagi pacaran (ih….ngawur) pas deket baru dia ngeh bahwa yang dikira cowoknya yuli adalah saya ( cewek juga gitu loh).

Kejadian lainnya saat saya pulang kemaleman, diangkot saya ketemu sama ibu – ibu, yang ternyata memperhatikan saya cukup lama, mungkin karena saking penasarannya beliau bertanya sama saya.

“ maaf mba atau mas ya?” tanya beliau dengan sopan.

“ mba bu, saya perempuan,” jawab saya, sambil nyengir.

“oh….pantes, saya fikir laki – laki, hati – hati nak, sudah malem, sendirian ya?” tanya beliau lagi.

“ iya bu, sendirian, mau pulang ke rumah, baru pulang dari kuliah di bogor, tolong doakan ya bu, biar selamat sampe rumah” jawab saya. tak lama saya pun turun dari angkot.
_________
Hari yang lain

Berdiri berjejalan dalam bis kota sudah jadi pemandangan umum di kota besar. Saat ini di depan mata saya banyak penumpang pria yang sampai hati membiarkan seorang ibu kerepotan membawa dua anak kecil dengan posisi berdiri. Satu tangannya tetap berpegangan pada senderan kursi, sementara tangan yang lain memegang tangan anaknya. Tak tega melihatnya, dengan cepat saya berdiri untuk mempersilahkan ibu itu duduk. Dengan tidak berkata sepatahpun, saya hanya mencolek tangan ibu tersebut.

“Makasih ya mas…” ucapnya.

Waduh… kok dibilang mas, mau menjelaskan sepertinya ga penting deh, lagi pula sebentar lagi saya harus turun. Hanya sempat senyum saja, menanggapi ucapan termakasihnya. Kemudian saya turun di sebuh halte.

Sementara tujuan masih jauh, harus beberapa kali lagi menyambung angkot, dan terakhir naik ojek. Saya mulai mengamati penampilan diri sendiri kali ini, celana jeans belel gombrong yang sudah ada sobekan kecil di bagian tumitnya, sweater abu-abu, dengan kemeja putih garis-garis didalamnya, plus tak ketinggalan topi pet jeans (bergambar logo MTv), sepatu All star yang warnanya sudah tak jelas lagi. Mungkin penampilan ini yang jadi penyebab saya dipanggil mas oleh ibu tadi. Masa sih…tampang saya, tidak ada cewek-ceweknya banget.

Ah…biar sajalah…, selama saya tidak merugikan orang lain, kenapa pusing.
Mulai terasa agak haus, saya mencoba memanggil pedagang asongan di sekitar halte. Seorang bapak menghampiri.

“Mau beli apa toh mas? Rokok atau minum?” tanyanya
Duh…, dua kali dipanggil mas hari ini. Sambil nyengir saya jawab bapak itu

“Mau beli minum.” Jawab saya
“Adek ini perempuan apa laki?” tanyanya lagi, sambil menyerahkan sebotol minumam dingin pada saya.

“Perempuan pak, memangnya kelihatannya saya seperti apa pak?” Tanya saya penuh selidik, sambil meneguk isi botol

“ Oh… walah…., saya kira laki-laki, lah wong rambutnya pendek, pake topi, badannya juga kaya laki, tapi saya penasaran denger suaranya kok kaya perempuan, makanya saya Tanya. Adek ini perempuan apa laki. Maaf ya dek, kalo saya tadi salah panggil” jelas bapak itu dengan malu-malu

“ ga apa pak, hari ini bapak orang kedua yang manggil saya ‘mas’, tadi di bis juga saya dipanggil mas.” Saya menjelaskan sambil nyengir garing.

Angkot yang ditunggu akhirnya kelihatan juga, dengan berbegas sayapun berdiri, siap-siap menyetop angkot. Siang panas begini mana betah lama-lama nongkrong di halte Cililitan. Goshong booo..

“ Ayo..mas, masih kosong…, centex…centex…., klapadua –klapadua.” Teriak supir angkot sambil melambaikan tangannya ke arah saya.

What…. tiga kali dalam sehari saya dipanggil mas (kaya minum obat aja). Sekali lagi dipanggil mas, besok saya bakal pake kaus dengan tulisan ‘100% wanita tulen’.

Ditaksir cewek ABG

Pulang kuliah sabtu itu seperti biasanya, di mana-mana orang pada pasang-pasangan. Baru nyadar, kalo malam minggu tuh jadwalnya yang punya pasangan pada ngapel. (mending ngepel, bisa bikin bersih rumah).

Angkot hampir penuh, sayapun naik menjadi penumpang yang kesekian. Duduk di deretan bangku (yang jatahnya empat orang), dipojok pula. Sementara di depan saya duduk berjejer tiga cewek ABG berseragam SMU (putih abu-abu’er). Sekolah mana ya… yang baru mulangin siswanya jam stengah delapan malam, apa baru pada plang les? (bodo ah…males mikir). Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan apa yang ABG itu bicarakan, tapi karena judulnya angkot, sempit, dan tidak kedap suara pula. Yasud… ikutan nguping deh.

Mereka ngerumpi tentang cowok-cowok di sekolahnya. Si A bla…bla…bla, si B…Ble..ble…ble…, si O blo…blo..blo…(loh ini kok jadi kaya belajar mengeja). Lanjuuuut.

Sayapun akhirnya memperhatikan mereka, ketiganya berambut panjang (bukan pasukan kunti loh). Yang satu pake bando dengan rambut digerai (bikin orang disebelahnya kelilipan rambut kalo ketiup angin), yang satu lagi polem(poni lempar), nah yang satunya dikuncir kuda (tapi kalo ketawa ngga mirip kuda kok).

Dandanan mereka layaknya anak SMU, wajah tanpa make up, baju putih dengan logo OSIS di kantong, tapi yang bikin miris, adalah rok mereka yang di atas lutut, sehingga duduknya agak-agak gimana…gitu. Serba salah deh (salah sendiri pake rok kelewat pendek). Yang saya heran di sekolahnya ga ada razia rok pendek ya. (saat saya SMU dulu ada loh razia rok pendek).

Cape mendengarkan rumpian mereka sayapun mulai mengeluarkan buku bacaan (komik tepatnya). Tapi kok perasaan ga enak ya…, kaya ada yang ngeliatin saya (bukan kegeeran loh) siapakah gerangan.

Saat mengangkat wajah, ingin tau siapa yang sedang memperhatikan, tatapan mata saya beradu dengan salah satu ABG itu. Senyumnya mengembang. Saya bingung. Nih anak ngapain senyam senyum sama saya, kaya iklan pasta gigi begitu. Sementara kedua temennya cekakak cekikik sambil saling sikut. Waduh…. Tambah binun saya.

“ Mas, boleh kenalan ga? Baru pulang kuliah ya? Kuliah dimana? Jurusan Kimia ya? itu bukunya judulnya ada kimia-kimianya semua. Kali aja kita bisa kuliah di kampus mas” Berondongan pertanyaan meluncur dari ABG itu. Sambil menunjuk tumpukan buku kimia dipangkuan yang baru saya pinjam dari perpus kampus, untuk persiapan bikin laporan praktikum.

Hehehe….nyengir deh saya, lagi-lagi di sangka lelaki. Niat usil muncul dibenak saya. Mumpung suara saya sedang serak serak bechek karena Flu dan batuk yang belum sembuh. Agak mirip lelaki gitu deh…

“Saya Tio, kuliah di bogor jurusan kimia analisis.” Jawab saya singkat sambil mengulurkan tangan. Dalam hati melanjutkan nama panjang saya ‘dewi Sulis TIO wati’. Yang penting ga bohong kan.

Senyum merekapun semakin berkembang. Apalagi si ABG ‘kuncir kuda’ yang nanya saya.
“ Udah punya pacar belum, mau ga mas jadi pacar saya?” tanyanya lagi berani

Astaghfirullah…., ABG sekarang agresif banget ya…, maksudnya apa nih. Tanya pacar segala. Gaswat…gaswat…

“Dalam kamus saya ga pake pacara mba, langsung nikah aja.” Jawab saya sekenanya
“Wah…beruntung sekali calon istri mas. Saya mau dong jadi istrinya” mereka makin cekikikan ga karuan.

“ Beresin dulu sekolahnya, baru mikir nikah.” Jawab saya agak ketus, lama-lama bĂȘte juga ngeladenin ABG kaya gini. Enaknya diapain ya…

Mereka langsung merengut mendengar jawaban saya. Hihihi..rasakan. Makanya jadi ABG jangan kecentilan dong. Mending yang digodain cowok tulen, lah…ini sesama cewek.
Tok..tok…tok…,

“kiri pak, centex” sambil mengetuk langit-langit mobil sayapun bergegas turun dari angkot tak lupa meninggalkan pesan manis untuk para ABG itu.

“ Mba.., maaf ya…, saya perempuan, bukan lelaki. Besok-besok kalo mau godain orang liat-liat dulu” cuex saya turun.

Sempat melihat tampang kaget dan malu mereka, sementara ibu yang duduk disampingnya nyengir sambil geleng kepala.

Dalam hati saya berkata, semoga jadi pelajaran untuk mereka, teliti sebelum naksir… :D :D